Refleksi Lampung 2025: Tumbuh, Tapi Belum Berubah, Intip Progressnya di Sini

Lampung menutup 2025 dengan deret angka yang tampak meyakinkan: ekonomi tumbuh stabil, pembangunan berjalan, dan berbagai program pemerintah digulirkan silih berganti. Dari kejauhan, grafik terlihat menanjak. Namun ketika didekati, pertanyaannya menjadi lebih mendasar, siapa yang benar-benar ikut terangkat oleh pertumbuhan itu, dan sejauh mana ia mengubah kehidupan sehari-hari masyarakat?

Tahun ini bukan sekadar catatan statistik atau etalase proyek. Ia adalah cermin yang memantulkan paradoks Lampung yaitu bergerak, tetapi belum sepenuhnya beranjak. Tumbuh, namun belum bertransformasi. Di balik capaian dan seremoni, masih tersisa pekerjaan besar soal kemiskinan struktural, kualitas belanja daerah, dan ketimpangan pembangunan yang terus berulang dari satu periode ke periode berikutnya. Refleksi akhir tahun ini penting bukan untuk memuji, melainkan untuk memastikan Lampung tidak kembali terjebak dalam lingkaran nyaman yang membuat perubahan terasa selalu tertunda.

Tahun 2025 menjadi babak penting bagi Lampung. Pergantian kepemimpinan, tekanan ekonomi global, serta meningkatnya tuntutan publik akan tata kelola yang bersih dan berdampak nyata menjadikan tahun ini bukan sekadar masa transisi, melainkan ujian arah pembangunan daerah. Lampung diuji bukan hanya oleh angka dan proyek, tetapi oleh kemampuannya menjawab harapan warganya sendiri.

Sejumlah indikator memang menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi relatif stabil, aktivitas pembangunan berjalan, dan program sosial terus digulirkan. Namun di balik itu, persoalan klasik belum sepenuhnya terurai. Kemiskinan struktural yang bertahan lintas generasi, kualitas belanja daerah yang belum optimal, serta ketimpangan pembangunan antarwilayah yang masih terasa.

Sepanjang 2025, perekonomian Lampung ditopang oleh sektor-sektor tradisional yang telah lama menjadi tulang punggung, pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Wacana hilirisasi mulai digaungkan, terutama pada komoditas unggulan seperti singkong, kopi, dan perikanan. Namun pertumbuhan ini belum sepenuhnya inklusif.

Di banyak wilayah pedesaan, peningkatan produksi belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan. Petani masih terjebak pada rantai nilai pendek, bergantung pada komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca ekstrem. Tanpa percepatan hilirisasi yang nyata dan industrialisasi berbasis potensi lokal, pertumbuhan ekonomi Lampung berisiko besar di angka, tetapi kecil dalam dampak.

Penurunan angka kemiskinan sepanjang 2025 layak diapresiasi. Intervensi fiskal daerah, bantuan sosial, dan upaya stabilisasi harga pangan memberi efek jangka pendek yang terasa. Namun kemiskinan di Lampung masih bersifat struktural. Banyak rumah tangga miskin bertumpu pada sektor informal dengan produktivitas rendah dan tanpa perlindungan sosial yang memadai. Daya beli kelompok bawah tetap rapuh, sangat sensitif terhadap gejolak harga pangan dan energi. Tantangan sesungguhnya bukan sekadar menurunkan angka kemiskinan, melainkan membangun fondasi ekonomi yang mampu mengangkat warga keluar dari kemiskinan melalui kerja produktif dan berkelanjutan, bukan semata distribusi bantuan.

Di bidang pendidikan, perluasan akses menunjukkan kemajuan, terutama pada jenjang dasar dan menengah. Rehabilitasi sekolah dan program bantuan pendidikan berjalan relatif konsisten. Namun mutu pendidikan masih menjadi pekerjaan besar. Ketimpangan kualitas antarwilayah, lemahnya keterkaitan dengan kebutuhan dunia kerja, serta minimnya pendidikan vokasi berbasis potensi lokal membuat pendidikan belum sepenuhnya menjadi mesin mobilitas sosial. Tanpa reformasi serius pada kualitas guru dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan daerah, pendidikan berisiko terus melahirkan lulusan, bukan talenta.

Sektor kesehatan pun mencatat kemajuan dari sisi infrastruktur dan layanan dasar. Penguatan fasilitas kesehatan dan layanan pembiayaan memberi harapan baru bagi masyarakat. Namun distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, kualitas layanan di daerah terpencil, serta lemahnya upaya pencegahan masih menjadi persoalan. Stunting, kesehatan ibu dan anak, serta penyakit tidak menular belum sepenuhnya terkendali. Orientasi kebijakan kesehatan masih terlalu bertumpu pada pengobatan, belum cukup kuat pada pencegahan dan promosi hidup sehat.

Pembangunan infrastruktur sepanjang 2025 berlangsung cukup agresif. Jalan, irigasi, embung, dan sarana dasar terus dibangun, disertai upaya awal mengaitkan pembangunan dengan konservasi lingkungan. Namun konflik lahan, degradasi ekologis, dan lemahnya tata ruang masih membayangi. Infrastruktur kerap hadir lebih cepat daripada kesiapan sosial dan lingkungan. Refleksi pentingnya jelas: pembangunan tidak cukup kokoh secara fisik, ia juga harus adil secara sosial dan lestari secara ekologis.

Dari sisi fiskal, APBD Lampung 2025 menunjukkan kapasitas anggaran yang relatif besar. Namun kualitas belanja masih menjadi catatan kritis. Ketergantungan pada transfer pusat, pemanfaatan SiLPA, dan dominasi belanja rutin membatasi ruang inovasi kebijakan. Dampaknya, belanja daerah belum sepenuhnya mampu mendorong lompatan signifikan pada Indeks Pembangunan Manusia. Masalah utama Lampung bukan terletak pada kurangnya anggaran, melainkan pada keberanian dan ketepatan dalam mengalokasikannya untuk program yang berdampak jangka panjang.

Tahun 2025 juga menjadi panggung harapan sekaligus kewaspadaan dalam tata kelola pemerintahan. Publik menuntut transparansi, akuntabilitas, dan integritas yang lebih kuat. Sorotan terhadap kasus-kasus hukum menjadi pengingat bahwa pembangunan tanpa kepercayaan publik hanya akan melahirkan jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Di penghujung 2025, Lampung berdiri di persimpangan. Progres memang ada, tetapi belum sepenuhnya mengubah struktur. Tantangan terlihat jelas, namun bukan tanpa jalan keluar. Tahun 2026 harus menjadi momentum peralihan dari pembangunan berbasis proyek menuju pembangunan berbasis dampak, dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju pemerataan, dari belanja rutin menuju investasi pada manusia.

Refleksi ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa Lampung tidak berjalan di tempat dan tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan.(inomics)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *