PERNAH nggak sih kamu dengar kata orang tua: “Jangan meracau terus, nanti tambah pusing!” Tapi tahukah kamu, kata “meracau” sendiri berasal dari bahasa Melayu lama, terkait dengan kata “cacau” atau “acak”, yang berarti tidak teratur atau berantakan. Dari akar itu, istilah ini berkembang menjadi arti modern: bicara ngawur, omong kosong, atau bertindak sembrono. Dan menariknya, meracau itu bisa bikin sejarah, kadang bencana global, kadang bikin heboh positif, dan kadang… bikin patah hati, sampai hancur-hancuran barang di rumah.
Bayangkan Eropa abad 20: diplomasi seperti grup chat tanpa admin, penuh ucapan sembrono. Ultimatum dari satu negara ke negara lain, pidato panjang berapi-api, dan reaksi terburu-buru berujung pada Perang Dunia I, jutaan orang terjebak konflik. Belum puas, Hitler hadir dengan pidatonya yang provokatif, semua orang terperangah, tapi dunia lebih terperangah lagi.
Tapi meracau nggak selalu bencana. Alexander Fleming sempat bercanda soal “bakteri ajaib” di mangkok. Terdengar ngawur, tapi menemukan penicillin, antibiotik pertama yang menyelamatkan jutaan nyawa. Ide vaksin mRNA yang terdengar mustahil juga terbukti menjadi pahlawan dunia saat pandemi COVID-19. Kadang, meracau itu bisa jadi superhero tersembunyi.
Di Indonesia, meracau juga punya versi lokal yang seru. Tahun 1998, mahasiswa dan rakyat bersuara lantang menuntut reformasi, banyak yang bilang “ngawur” dan terlalu berani. Tapi siapa sangka? Soeharto lengser, era Reformasi dimulai, demokrasi berkembang, dan mahasiswa tersenyum bangga sambil foto dengan poster bertulisan “Meracau itu Sah!”.
Meracau juga muncul di dunia bisnis. Ide awal “ojek online bisa jadi bisnis besar?” terdengar gila, tapi GoJek membuktikan bahwa ide ngawur bisa menjadi mesin uang, inovasi teknologi, dan membuka ribuan lapangan kerja. Bayangkan kalau semua orang terlalu takut meracau, mungkin kita masih naik bentor atau bemo sampai sekarang.
Di ranah sosial dan hiburan, media sosial dan meme politik menghadirkan meracau yang produktif. Awalnya terdengar ngawur atau lebay, tapi publik jadi lebih kritis, pemerintah mulai berpikir dua kali sebelum ambil keputusan gegabah. Bahkan di pandemi COVID-19, ide seperti “masker dari kaos kaki” atau portal digital desa terdengar lucu dan ngawur, tapi membantu banyak orang dan menginspirasi inovasi lokal.
Salah satu contoh paling kekinian adalah pertunjukan stand-up comedy Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono. Pertunjukan ini, yang tayang penuh di Netflix pada akhir 2025, penuh dengan humor tajam, satire politik, dan komentar sosial yang kadang terdengar ngawur. Awalnya kontroversial dan memicu pro-kontra, tapi justru memancing diskusi publik luas tentang politik, ekspresi, dan batas humor. Bahkan Pandji berkolaborasi dengan lembaga seperti KPK untuk menyampaikan pesan edukatif lewat komedi hingga menjadi bukti nyata bahwa meracau bisa menghibur sekaligus mengedukasi.
Dan jangan lupa sisi paling “dekat” dari meracau dalam di percintaan dan rumah tangga. Salah ngomong, sok pinter nge-gas terlalu cepat, atau komentar ngawur di chat pasangan bisa bikin hubungan retak, putus cinta, bahkan rumah tangga hancur. Kadang meracau nggak cuma kata-kata, bisa sampai banting-banting barang, pecahin botol minuman, atau hape sendiri! Bayangkan: kamu marah karena pasangan lupa ulang tahun, tiba-tiba piring terbang ke tembok, hape melayang, dan satu-satunya yang selamat hanyalah kucing di pojok. Kadang, meracau di rumah tangga lebih cepat dampaknya daripada perang dunia, tapi kalau disertai humor dan maaf tulus, bisa jadi bahan tertawa bareng, bukan tangisan sendiri.
Kalau kita lihat pola, meracau bisa dibagi dua, negatif dan positif. Negatif? Pidato Hitler, ucapan ceroboh pejabat keuangan tahun 2008, hoaks pandemi, komentar ngawur ke pasangan, atau aksi banting-banting barang bisa bikin kekacauan global maupun patah hati lokal.
Positif? Fleming, mahasiswa 1998, GoJek, meme lucu, Mens Rea, bahkan candaan rumah tangga yang berhasil bikin pasangan tersenyum, semuanya membuktikan bahwa meracau kreatif bisa mengubah dunia, atau setidaknya membuat orang berpikir sambil tertawa. Intinya, meracau itu seperti bumbu masak. Sedikit bikin menarik, terlalu banyak bikin mual, tapi kalau ditangani dengan kreatif, bisa jadi hidangan lezat yang dikenang sejarah.
Jadi, kalau ada yang bilang “jangan meracau!”, maka ingatlah, meracau bisa bikin perang, jangan dicontoh. Meracau bisa bikin krisis finansial, maka harus hati-hati. Meracau bisa bikin vaksin, startup, reformasi, meme kocak, stand-up comedy edukatif, candaan rumah tangga, atau bahkan aksi banting-banting barang, silakan, asal kreatif dan jangan melukai. Pilihlah barang bekas, lakukan dengan candaan dan siapkan kata maaf terbaik.
Tapi kalau kamu lagi meracau parah, jangan sampai botol minuman melayang, hape terbang, dan kucing di pojok ikut trauma, karena itu namanya meracau level ekstrem. Jadi, meracau secukupnya, biar sejarah ingatmu dengan senyum… bukan karena kamu jadi viral karena ngelempar botol sojo ke tembok.
Jangan gila dong! (i-nomics)
