“Ketika inflasi rendah dirayakan tanpa bertanya mengapa ekonomi melambat, di situlah ilusi prestasi inflasi mulai bekerja.”
i-nomics
Inflasi rendah di Lampung terus dipajang sebagai kabar baik. Angka tahunan ditekan, peringkat nasional dibanggakan, dan forum-forum resmi dipenuhi pujian atas “stabilitas harga” yang disebut terjaga. Masalahnya, di balik ketenangan statistik itu, ekonomi Lampung justru menunjukkan gejala lain yang jauh lebih mengkhawatirkan: aktivitas yang datar, konsumsi yang tertahan, dan fiskal daerah yang kehilangan tenaga.
Inflasi yang rendah tidak otomatis menandakan ekonomi sehat. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi sinyal permintaan yang melemah. Ketika rumah tangga menahan belanja, pelaku usaha menunda ekspansi, dan sektor riil bergerak hati-hati, harga memang tidak naik. Tapi bukan karena pasokan efisien, melainkan karena uang tidak cukup berputar. Inilah konteks yang luput dibaca ketika inflasi rendah diperlakukan sebagai trofi.
Lampung tampak masuk dalam jebakan itu. Inflasi ditekan, tetapi pertumbuhan tidak melonjak. Daya beli disebut “terjaga”, namun tidak terlihat lonjakan konsumsi yang signifikan. Produksi berjalan, tapi tanpa akselerasi. Stabilitas yang dirayakan lebih menyerupai ekonomi yang menahan napas, bukan ekonomi yang berlari.
Yang lebih berbahaya, narasi inflasi rendah ini meninabobokan kebijakan fiskal. Pemerintah daerah terlihat nyaman dengan kondisi “aman”, padahal fondasi penerimaan daerah tidak menguat. Ketika inflasi dan aktivitas ekonomi sama-sama datar, Pendapatan Asli Daerah tidak tumbuh agresif. Pajak daerah stagnan, retribusi terbatas, dan APBD kehilangan ruang gerak untuk mendorong pembangunan secara progresif.
Ilusi prestasi inflasi bekerja, angka tampak baik, tapi kapasitas ekonomi justru menipis. Stabil di permukaan, rapuh di dalam.
