Isra Mi’raj dan Kepemimpinan yang Menerangkan Jalan (dalam konteks Lampung)

“Kepemimpinan adalah amanah, ia tidak ditegakkan oleh kecerdikan, tetapi oleh kejujuran dan pertanggungjawaban.”Imam Al-Ghazali

@i-nomics

Isra Mi’raj kerap dikenang sebagai peristiwa spiritual yang agung. Namun hakikat terpentingnya justru terletak pada pesan yang tenang tentang bagaimana manusia, terutama pemimpin menata diri sebelum menata dunia. Perjalanan Nabi Muhammad SAW itu terjadi bukan saat keadaan lapang, melainkan ketika hidup terasa berat dan penuh tekanan. Di tengah situasi itulah, yang diturunkan bukan jalan pintas, melainkan disiplin, salat, keteraturan, dan tanggung jawab.

Pesan ini menjadi relevan ketika dibaca dalam konteks kepemimpinan daerah, termasuk Lampung hari ini.

Lampung sedang berada pada fase yang menuntut kehati-hatian. Kebutuhan pembangunan terus tumbuh, sementara ruang fiskal tidak selalu sejalan. Dalam situasi seperti ini, berbagai opsi kebijakan muncul, termasuk pemanfaatan pinjaman daerah. Langkah yang sah dan dapat menjadi alat percepatan, sepanjang diletakkan dalam kerangka yang jernih dan bertanggung jawab.

Di sinilah Isra Mi’raj memberi cahaya.

Salat yang diturunkan melalui Isra Mi’raj mengajarkan keteraturan yang jelas. Ada waktu, ada tata cara, ada konsekuensi. Tidak ada yang samar. Prinsip inilah yang seharusnya hidup dalam tata kelola fiskal daerah. Ketika pemerintah daerah mempertimbangkan pinjaman, yang dibutuhkan publik bukan sekadar keyakinan bahwa “semua aman”, melainkan penjelasan yang terang tentang bagaimana kewajiban itu akan dipenuhi.

Menjelaskan skema pembayaran pinjaman kepada masyarakat bukan semata tuntutan administratif. Ia adalah bagian dari kepemimpinan yang mendidik. Ketika publik memahami dari mana cicilan dibayar, bagaimana dampaknya pada APBD, dan risiko apa yang telah diperhitungkan, di situlah kepercayaan tumbuh, sebab transparansi bukanlah beban, melainkan sarana membangun kedewasaan bersama.

Lampung memiliki modal sosial dan budaya yang kuat. Nilai keteraturan, kebersamaan, dan tanggung jawab telah lama hidup dalam praktik adat. Nilai-nilai ini akan menemukan maknanya ketika tercermin dalam kebijakan publik, terutama kebijakan strategis yang berdampak jangka panjang. Dengan begitu, pembangunan tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga bergerak dengan arah yang jelas.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal seberapa tinggi ambisi diletakkan, melainkan seberapa jujur proses dijalankan. Keputusan besar tidak selalu harus dibungkus dengan retorika, tetapi perlu diterangi dengan penjelasan yang dapat dipahami masyarakat luas.

Di tengah tantangan fiskal dan tuntutan pembangunan, Lampung membutuhkan kepemimpinan yang menenangkan sekaligus mencerahkan. Berani mengambil keputusan, namun tidak menghindar dari pertanggungjawaban. Bergerak maju, namun tetap menjaga ritme.

Isra Mi’raj mengingatkan bahwa perjalanan paling bermakna bukan hanya tentang naik, tetapi tentang kembali ke bumi dengan amanah yang terjaga. Termasuk amanah untuk mengelola keuangan daerah dengan jujur, terbuka, dan penuh kesadaran bahwa setiap kebijakan hari ini adalah titipan untuk masa depan.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *