@i-nomics
Dalam dunia ekonomi, logika mitos bekerja dengan cara yang lebih halus. Jargon pertumbuhan tinggi, investasi besar, dan proyek strategis kerap berfungsi sebagai bulu perindu modern. Angka-angka dipercaya seolah memiliki daya magis. Cukup diumumkan, maka kesejahteraan dianggap akan datang dengan sendirinya.
Padahal pertumbuhan hanyalah angka agregat. Ia tidak otomatis menjelma lapangan kerja, tidak serta-merta menaikkan daya beli, dan tidak selalu menetes ke bawah. Tanpa kerja nyata, tata kelola yang jujur, serta distribusi yang adil, pertumbuhan lebih sering menjadi ilusi yang menenangkan, bukan realitas yang mengubah hidup.
Seperti sugesti dalam mitos, angka yang terus diulang menciptakan rasa aman semu. Laporan tampak indah, presentasi meyakinkan, tetapi jarak antara data dan pengalaman sehari-hari masyarakat kian lebar. Di titik ini, ekonomi tidak lagi bicara dampak, melainkan citra.
Masalah muncul ketika simbol dipercaya lebih dari substansi. Ketika proyek dinilai dari nilai kontraknya, bukan manfaatnya. Ketika investasi dihitung dari komitmen, bukan realisasi. Ketika keberhasilan diukur dari grafik, bukan dari dapur rumah tangga.
Kesalahan terbesar bukan salah membaca data, melainkan sadar bahwa pertumbuhan tidak inklusif namun tetap dipertahankan narasinya. Inflasi dibanggakan lalu dirayakan sebagai prestasi, padahal di ujungnya ramai pabrik tutup, PHK di mana-mana.
Dalam situsasi ini, tanggung jawab moral kebijakan diuji.Literasi dan numerasi mesti lebih tinggi lagi, agar publik tercerahkan, tidak bodoh, bebas dari pengaruh bulu perindu ekonomi. Bebas dari angka-angka palsu.
Ekonomi yang sehat tidak membutuhkan bulu perindu. Ia membutuhkan kejujuran pada angka, keberanian pada fakta, dan keberpihakan nyata pada manusia yang hidup di balik statistik.***
