Lampung Menua Sebelum Kaya: Ini Sebabnya

Lampung Menua Sebelum Kaya: Ini Sebabnya

Oleh: i-nomics

LAMPUNG sedang menua sebelum sempat menjadi kaya. Secara statistik, provinsi ini masih berada dalam fase bonus demografi di mana penduduk usia produktif (15–64 tahun) mendominasi struktur penduduk. Namun keunggulan ini tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Usia produktif yang besar tidak tinggal dan tidak bekerja secara produktif di Lampung, sehingga momentum pertumbuhan terbuang sebelum kesejahteraan tercapai.

Masalahnya bukan pada jumlah, melainkan pada keberadaan dan kualitas. Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Lampung mengalami migrasi neto keluar, yang berarti lebih banyak penduduk pindah ke provinsi lain dibanding yang masuk. Kelompok yang paling banyak pergi adalah usia kerja muda, terutama mereka yang berada pada fase paling produktif dan adaptif. Secara demografis Lampung tampak diuntungkan, tetapi secara ekonomi kehilangan tenaga terbaiknya.

Mereka pergi karena struktur ekonomi Lampung tidak mampu menahan dan memanfaatkan bonus demografi. Perekonomian daerah masih bertumpu pada sektor primer dengan nilai tambah rendah. Kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) relatif stagnan, sementara sektor jasa modern tumbuh terbatas. Lapangan kerja bermutu sedikit, sehingga usia produktif tidak menemukan alasan ekonomi untuk bertahan.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS memperlihatkan mayoritas tenaga kerja Lampung terserap di sektor informal, dengan produktivitas dan upah yang rendah. Dalam kondisi ini, bekerja tidak selalu berarti naik kelas secara ekonomi. Usia produktif memang bekerja, tetapi tidak cukup produktif untuk mendorong pertumbuhan daerah. Bonus demografi pun berhenti sebagai statistik, bukan sebagai mesin kesejahteraan.

Kondisi ini diperparah oleh kualitas sumber daya manusia. Rata-rata lama sekolah Lampung masih berada di bawah rata-rata nasional. Pendidikan menengah dan tinggi tumbuh, tetapi tidak disambut oleh pasar kerja lokal. Terjadi ketimpangan struktural,  lulusan ada, pekerjaan bermutu tidak tersedia. Bagi tenaga terdidik, migrasi keluar daerah menjadi pilihan rasional, bukan emosional.

Akibatnya, Lampung kehilangan modal manusia ganda. Yang berpendidikan rendah terjebak di sektor informal, sementara yang berpendidikan lebih tinggi pergi. Usia produktif Lampung terbelah, sebagian bekerja dengan produktivitas rendah di dalam daerah, sebagian lagi membangun ekonomi di luar Lampung. Keduanya sama-sama tidak memperkuat basis ekonomi lokal secara optimal.

Secara bersamaan, Lampung tetap menanggung beban sosial. Data BPS menunjukkan proporsi anak dan lansia masih signifikan, sementara tingkat kemiskinan provinsi masih berada di kisaran dua digit. Artinya, hasil dari bonus demografi belum cukup untuk menopang kebutuhan sosial yang terus berjalan. Ketika penduduk mulai menua, daerah belum memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menanggungnya.

Kebijakan fiskal daerah belum sepenuhnya mengoreksi persoalan ini. APBD masih dominan terserap ke belanja rutin dan infrastruktur fisik konvensional, sementara investasi langsung pada peningkatan produktivitas manusia, pendidikan vokasi, kesehatan preventif, inovasi, dan penciptaan kerja bernilai tambah masih terbatas. Anggaran belum bekerja sebagai alat menahan kebocoran bonus demografi.

Inilah inti persoalannya. Lampung menua sebelum kaya bukan karena kekurangan usia produktif, melainkan karena usia produktif tidak tinggal dan tidak cukup produktif di daerahnya sendiri. Bonus demografi bocor secara geografis dan struktural. Jika pola ini berlanjut, rasio ketergantungan akan kembali naik sementara basis ekonomi belum sempat terbentuk.

Bonus demografi tidak berlangsung lama. Tanpa perubahan arah, diversifikasi ekonomi, penguatan industri lokal, peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, serta kebijakan fiskal yang secara sadar menahan dan memanfaatkan usia produktif, Lampung akan melewati fase emasnya tanpa hasil. Menjadi tua tidak terhindarkan. ***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *