Lulus Lalu Pergi: Bonus Demografi Bocor

@i-nomics

SUBUH belum benar-benar selesai ketika koper kecil itu diturunkan dari motor. Ijazah SMA masih terlipat rapi di dalam map plastik, belum sempat difotokopi, belum sempat dilegalisasi. Rina, 18 tahun, memeluk ibunya singkat. Tidak ada pidato perpisahan. Hanya pesan pendek: “Jangan pilih-pilih kerja.” Pagi itu, Rina berangkat ke Jakarta.

Ia baru dua minggu lulus sekolah di Lampung Selatan. Belum pernah bekerja. Belum tahu akan tinggal di mana. Yang ia tahu hanya satu,  di kampung tidak ada pekerjaan untuknya. Temannya sudah lebih dulu berangkat ke Bekasi, kakaknya bekerja di Tangerang, sepupunya menetap di Palembang. Rina mengikuti jejak yang sudah digambar jauh sebelum kelulusan.

Setiap tahun, pemandangan serupa berulang. Lulusan SMA dan SMK di Lampung menutup buku pelajaran, lalu terpaksa bermigrasi ke Jakarta, Banten, atau Jawa Barat. Guru memberi selamat kelulusan, tetapi masa depan dibicarakan di luar sekolah, di grup WhatsApp alumni, di cerita kakak kelas yang sudah lebih dulu “minggat”.

Di Lampung, pekerjaan ada, tapi tidak banyak dan jarang menjanjikan. Upah kecil, kontrak tak pasti, kerja serabutan tanpa jaminan. Bahkan ada yang sama sekali tidak terkover UU Ketenagakerjaan, tanpa BPJS.

Menunggu bukan pilihan bagi keluarga yang berharap anaknya segera mandiri. Maka bekerja apa saja di rantau terasa lebih masuk akal daripada tinggal tanpa kepastian di rumah sendiri.

Awalnya mereka pergi untuk sementara. Namun sementara berubah menjadi menetap. Kontrak diperpanjang, kos menjadi rumah, alamat berganti meski KTP tetap Lampung. Mereka belajar hidup di kota orang: berbagi kamar, lembur, menghemat, bertahan. Lampung menjadi kampung halaman, bukan tempat membangun masa depan.

Yang jarang terlihat adalah apa yang tertinggal. Setiap anak muda yang pergi membawa serta tenaga, waktu, dan harapan. Mereka bekerja, membayar pajak, dan berbelanja di daerah lain. Produktivitas mereka tidak lagi mengalir ke Lampung, meski orang tua masih tinggal di sana, meski sawah dan rumah tetap menunggu.

Ironinya, Lampung disebut sedang menikmati bonus demografi. Penduduk usia produktif mendominasi. Tetapi bonus ini bocor sejak awal. Generasi yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi lokal justru mengisi pabrik, kantor, dan pasar di provinsi lain. Lampung tampak muda di data, tetapi kehilangan denyut di kenyataan.

Sebagian dari mereka ingin pulang. Rina menyimpannya sebagai rencana samar. “Kalau ada kerjaan yang jelas,” katanya. Pulang bukan soal rindu, melainkan soal hidup. Tanpa pekerjaan layak, pulang hanya berarti kembali menganggur.

Migrasi ini bukan kisah kegagalan individu. Ini adalah cerita kolektif tentang daerah yang belum siap menahan generasinya sendiri. Anak-anak muda Lampung tidak meninggalkan rumah, mereka meninggalkan kekosongan. Dan setiap tahun, koper-koper kecil akan terus diturunkan di subuh hari, membawa ijazah baru dan harapan yang sama.

Jika Lampung  menolak menua sebelum kaya, Lampung harus mencegah arus migrasi anak muda setelah hari setelah kelulusan dengan menyiapkan semua hal sehingga mereka memilih bertahan di daerah sendiri, dengan pekerjaan yang layak. ***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *