Hari ini, Lampung adalah simpul batu bara. Besok, peta energi akan berubah. Lampung jangan sampai mengenyot jempol sendiri.
@i-nomics
Transisi energi sedang berjalan pelan, tak selalu rapi, tapi tak terhindarkan. PLTU mulai bicara co-firing. Biomassa masuk hitungan. Logistik energi tak lagi tunggal. Pertanyaannya bukan apakah Lampung akan terdampak, melainkan apakah Lampung hanya akan kembali menjadi jalur.
Secara infrastruktur, Lampung sudah siap lebih dulu dibanding banyak daerah lain. Lampung punya rel berat, pelabuhan besar, dan posisi geografis yang tak bisa ditiru. Semua prasyarat hub energi masa depan sudah ada. Yang belum ada adalah keputusan politik untuk menaikkan peran itu.
Jika negara hanya memindahkan jenis muatan dari batu bara ke komoditas energi lain tanpa mengubah relasi fiskal, maka Lampung akan mengulangi nasib yang sama, sibuk, strategis, tetapi tetap di pinggir manfaat.
Padahal transisi adalah momentum koreksi. Saat logistik energi didesain ulang, peran wilayah penghubung bisa dihitung ulang. Bukan hanya sebagai jalur, tetapi sebagai pusat nilai tambah, industri turunan, jasa logistik bernilai tinggi, hingga pusat kendali distribusi.
Lampung bisa memilih tetap menjadi conveyor belt, atau naik kelas menjadi operator sistem. Perbedaannya bukan teknis, melainkan keberanian kebijakan.
Jika hari ini Lampung tidak masuk perhitungan transisi, maka esok ia hanya akan menjadi jalur lama dengan muatan baru. Energi berubah, Lampung terus mengenyot jempol sendiri. ***
