Libatkan 18 Ribu Petani Hutan
LAMPUNG – Upaya mendorong ekonomi hijau Lampung mulai bergerak dari tataran wacana ke desain kebijakan yang lebih konkret. Pemerintah Provinsi Lampung bersama PT Olam Indonesia dan program internasional Partnerships for Forests (P4F) tengah menyiapkan skema hilirisasi kakao berkelanjutan yang menyasar langsung petani Perhutanan Sosial di sekitar kawasan hutan.
Pertemuan antara Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, manajemen PT Olam Indonesia, dan P4F bukan sekadar agenda seremonial. Diskusi ini menandai keseriusan Pemprov Lampung mengaitkan agenda kehutanan, pertanian rakyat, dan industri pengolahan dalam satu rantai nilai ekonomi yang utuh, dari kebun petani hingga produk bernilai tambah.
Selama ini, kakao Lampung masih didominasi penjualan biji mentah dengan nilai ekonomi terbatas. Melalui kerja sama ini, hilirisasi diarahkan agar proses pengolahan tidak lagi berhenti di tingkat panen, tetapi masuk ke tahap pascapanen, peningkatan mutu, dan integrasi dengan pasar global yang menuntut standar keberlanjutan.
PT Olam Indonesia, sebagai pemain global di sektor pangan dan kakao berkelanjutan, telah melakukan peninjauan langsung ke lahan petani di Kabupaten Pesawaran dan Lampung Timur. Hasilnya, kualitas kakao yang dikembangkan petani dinilai memiliki potensi untuk masuk ke rantai pasok industri yang lebih maju, asalkan ditopang pembinaan dan kelembagaan yang kuat.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, menegaskan bahwa kolaborasi ini difokuskan pada petani Perhutanan Sosial, kelompok yang selama ini berada di persimpangan antara kebutuhan ekonomi dan tuntutan pelestarian hutan. Dengan pendekatan agroforestry, kakao tidak diposisikan sebagai ancaman hutan, melainkan sebagai instrumen ekonomi yang justru memperkuat fungsi ekologis kawasan.
Model agroforestry kakao yang akan dikembangkan menggabungkan produksi komoditas dengan konservasi tutupan lahan. Pola ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem, sebuah pendekatan yang semakin relevan di tengah tekanan perubahan iklim dan degradasi hutan.
Direktur Utama PT Olam Food Indonesia, Imam Suharto, menyebut pihaknya telah menjalankan pendampingan kakao berbasis agroforestry sejak 2015 di kebun milik petani di luar kawasan hutan. Model tersebut terbukti meningkatkan produktivitas dan kualitas, dan kini akan diperluas ke kawasan Perhutanan Sosial.
Skala program yang disiapkan tidak kecil. Proyek ini ditargetkan mencakup sekitar 35.000 hektare kawasan Perhutanan Sosial dengan melibatkan kurang lebih 18.000 petani di empat kabupaten: Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tanggamus. Dukungan juga datang dari Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) atau Kementerian luar negeri Inggris.
FCDO berperan sebagai pemberi dukungan dan pendanaan (melalui skema UK Aid) untuk program Partnerships for Forests (P4F). Artinya, keterlibatan mereka bukan seremoni diplomatik, tapi penanda bahwa proyek kakao Lampung dipandang:relevan secara global, memenuhi standar keberlanjutan internasional, dan layak dijadikan model percontohan.
Bagi Lampung, kerja sama ini menjadi momentum penting. Jika dijalankan konsisten, hilirisasi kakao berbasis agroforestry berpotensi memperkuat ekonomi desa, mengurangi ketergantungan petani pada komoditas mentah, serta menempatkan kehutanan sebagai motor pembangunan, bukan sekadar ruang lindung yang terpisah dari denyut ekonomi daerah.(i-nomics)
