Emas di Lumbung Padi

@i-nomics

Di banyak desa Lampung hari ini, ada perubahan kecil yang nyaris tak terdengar. Bukan perubahan cara menanam, melainkan cara merasa aman. Sebagian petani mulai lebih tenang menyimpan emas daripada menanam lebih banyak. Bukan karena mereka mengejar untung besar, melainkan karena bertani tak lagi memberi kepastian yang cukup.

Emas bagi petani bukan simbol kemewahan. Ia adalah jeda dari kecemasan. Saat harga panen mudah jatuh, cuaca sulit ditebak, dan biaya terus naik, emas menjadi satu-satunya nilai yang terasa setia. Disimpan bukan untuk kaya, tapi agar tidak jatuh saat keadaan memaksa.

Memang belum tersedia data yang secara tegas memisahkan pembeli emas antara warga desa dan kota. Namun indikator-indikator yang ada menunjukkan arah yang patut dicermati. Sepanjang 2025, penjualan emas batangan di Lampung tercatat meningkat tajam. Pegadaian wilayah Lampung, misalnya, melaporkan lonjakan penjualan hingga ratusan kilogram dalam satu tahun, angka yang jauh melampaui tren tahun-tahun sebelumnya. Penting dicatat, jaringan Pegadaian tidak hanya beroperasi di pusat kota, tetapi menjangkau kecamatan dan wilayah administratif yang secara sosial-ekonomi didominasi masyarakat perdesaan.

Artinya, meskipun data tidak memisahkan secara eksplisit, lonjakan permintaan emas fisik di Lampung hampir pasti melibatkan kelompok masyarakat nonperkotaan. Ini bukan kesimpulan serampangan, melainkan pembacaan struktur layanan keuangan yang memang sejak lama menjadi rujukan warga desa untuk menyimpan, menggadaikan, dan menebus aset.

Masalahnya, emas tidak menumbuhkan apa pun. Ia menjaga, tapi tidak menggandakan. Ketika desa mulai menyimpan lebih banyak daripada menanam, ekonomi pelan-pelan mengerem dirinya sendiri. Ladang tetap diolah, tapi dengan kehati-hatian berlebih. Risiko dihindari, ekspansi ditunda, dan pertumbuhan menjadi cerita yang ditangguhkan.

Pilihan ini sering dianggap soal kebiasaan atau literasi. Padahal ini adalah bahasa sunyi dari ketidakpercayaan. Ketika petani merasa harus melindungi diri sendiri, itu pertanda perlindungan bersama belum bekerja. APBD hadir, program berjalan, tetapi rasa aman tak pernah benar-benar dibangun sampai ke akar.

Desa Lampung akhirnya menjadi kuat dalam bertahan, tapi lemah dalam bertumbuh. Dan daerah yang ditopang desa seperti itu akan selalu tertahan. Ia tampak stabil, namun kehilangan daya lompat. IPM naik perlahan, daya beli stagnan, dan pertanian tetap berada di tempat yang sama,  bekerja keras tanpa kepastian.

Emas di lumbung padi adalah metafora dari ekonomi yang waspada. Ia tidak salah. Yang keliru adalah sistem yang membuat kewaspadaan menjadi satu-satunya pilihan rasional. Selama menanam terasa lebih berisiko daripada menyimpan, desa akan terus menahan napas, dan Lampung akan terus berjalan tanpa benar-benar bergerak.

Bagi petani Lampung, emas tidak keliru selama ia tetap menjadi pagar, bukan tujuan. Menyimpan sebagian hasil sebagai cadangan adalah wajar, tetapi masa depan tetap tumbuh dari tanah yang digarap, bukan dari logam yang disimpan.

Pilihan terbaik adalah menjaga keseimbangan. Lindungi diri dari risiko, namun jangan menghentikan keberanian untuk menanam, memperbaiki cara produksi, dan mencari nilai tambah sekecil apa pun yang bisa diciptakan. Sebab, emas bisa menenangkan hari ini, tetapi hanya sawah, kebun, dan kerja yang dikelola dengan cerdas yang bisa menjamin esok hari tetap hidup.***

 

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *