@i-nomics
Beberapa tahun lalu, ramalan bahwa mobil baru bisa lebih murah daripada mobil bekas terdengar seperti bahan gurauan pasar. Nyatanya, hari ini terjadi betulan. Lihatlah, di showroom, di platform jual-beli daring bertebaran diskon besar-besaran mobil berharga murah
Fenomena ini sering dilekatkan pada “ramalan” Bennix. Ini, bukan nubuat, melainkan sinyal ekonomi yang bertemu tiga arus besar sekaligus, yaitu melemahnya daya beli, perang harga industri otomotif, dan perubahan perilaku konsumen pascapandemi yang makin waspada.
Sejak 2024–2025, pasar mobil nasional menunjukkan tanda kelelahan. Gaikindo mencatat penjualan retail semester pertama 2025 berada di kisaran 390 ribu unit, turun hampir 10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini penting karena mobil bukan sekadar barang konsumsi. Mobi adalah barometer kepercayaan diri kelas menengah. Ketika orang ragu membeli mobil, bukan selera selera, melainkan soal ketidakpastian pendapatan dan mahalnya biaya hidup.
Produsen merespons dengan cara paling rasional dari sudut bisnis dengan banting harga, memperpanjang tenor kredit, dan menggempur pasar dengan diskon. Hasilnya paradoksal, beberapa model mobil baru menjadi sangat kompetitif, bahkan lebih menarik dibanding mobil bekas yang baru satu atau dua tahun dipakai.
Di saat yang sama, pasar mobil bekas terhuyung. Banyak model usia muda mengalami depresiasi cepat, puluhan hingga ratusan juta rupiah hilang dalam waktu singkat. Bagi calon pembeli, ini tampak seperti kesempatan. Bagi pemilik, ia terasa seperti kehilangan nilai yang brutal. Bikin nyesek.
Di Lampung, paradoks ini terasa lebih nyata karena struktur ekonominya masih bertumpu pada komoditas dan perdagangan. Showroom di Bandar Lampung, Natar, Metro, hingga Kalianda berlomba memasang spanduk diskon besar, sementara skema kredit menjadi senjata utama penjualan. Pembeli tak lagi datang demi status sosial, melainkan karena cicilan “terasa bisa ditanggung”.
Namun, di sisi lain, petani sawit, karet, dan singkong masih bergulat dengan harga yang fluktuatif, biaya pupuk mahal, jalan desa yang belum sepenuhnya mulus, dan ongkos logistik yang tinggi.
Lampung menjadi contoh paradoks itu ketika alat mobilitas membaik, tetapi fondasi kesejahteraan masih rapuh. Yang berubah sesungguhnya bukan hanya harga kendaraan, melainkan psikologi pasar. Kelas menengah kini membeli lebih defensif, melirik tenor cicilan lebih panjang, belanja lebih selektif, dan tabungan lebih dijaga untuk menghadapi ketidakpastian. Rumusnya, jangan sampai mantab terlalu dalam. Jangan makan tabungan tanpa kalkulasi ketat.
Karena itu, turunnya harga mobil baru bukanlah tanda kemakmuran. Ia lebih mirip termometer ekonomi yang menunjukkan suhu sedang tidak sehat, dingin oleh kecemasan, bukan sejuk oleh kesejahteraan.
Jika ada pelajaran dari kisah ini, dan dari cara Bennix membaca gejala, itu bukan soal siapa yang paling tepat meramal, melainkan siapa yang berani membaca tanda sebelum krisis benar-benar datang. Mobil murah hari ini adalah cerita tentang persaingan global yang makin keras, daya beli yang tertahan, dan negara berkembang yang terjepit antara kebutuhan pertumbuhan dan keterbatasan fiskal.
Bagi Lampung, tantangannya bukan sekadar membuat warganya mampu membeli mobil lebih murah, tetapi memastikan pendapatan mereka naik lebih cepat daripada diskon di showroom.
Kita hidup di zaman di mana barang makin terjangkau, tetapi masa depan terasa makin rapuh. Maka pertanyaan terpenting bukan lagi apakah mobil akan makin murah, melainkan apakah ekonomi Lampung dan Indonesia cukup kuat sehingga orang membeli bukan karena cicilan ringan, melainkan karena benar-benar sejahtera.
Itulah tantangan kekinian yang sesungguhnya. Tantangan ini akan semakin berat di masa datang bila penurunan penjualan mobil 10 persen itu terus berlanjut maka pajak kendaraan juga bakal ikut tersurut. ***
