Di Balik Angka NTP Lampung: Panen Melimpah, Daya Beli Meredup

@i-nomics

Penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Januari 2026 dari 130,15 menjadi 128,17 seharusnya dibaca bukan sebagai fluktuasi statistik biasa, melainkan sebagai sinyal rapuhnya ekonomi pedesaan.

Di atas kertas, NTP masih berada di atas 100, seolah petani tetap “untung”. Namun di lapangan, keuntungan itu makin tipis, makin rapuh, dan makin tidak pasti. Harga yang diterima petani (It) turun 1,77 persen, sementara biaya yang mereka bayar (Ib) hanya turun 0,25 persen. Artinya, pendapatan menyusut lebih cepat daripada beban hidup. Ptani bekerja sama kerasnya, tetapi membawa pulang uang yang lebih sedikit.

Tekanan paling brutal terjadi di hortikultura. NTP sektor ini anjlok hampir 12 persen, terutama karena jatuhnya harga cabai merah saat panen raya. Ini bukan kegagalan produksi, melainkan kegagalan tata niaga. Lampung menghasilkan banyak, tetapi tidak mampu melindungi harga hasil panennya. Pasokan melimpah berubah dari berkah menjadi malapetaka harga. Di tanaman pangan, cerita serupa berulang: jagung dan gabah tertekan saat panen raya, sementara kualitas gabah memburuk akibat musim hujan. Produksi tinggi tidak otomatis berarti kesejahteraan tinggi, sebuah paradoks yang terus menghantui petani Lampung.

Pada perkebunan rakyat, penurunan NTP yang tampak kecil menyembunyikan kerentanan struktural yang lebih besar. Ketergantungan pada komoditas seperti kopi membuat petani rentan terhadap ayunan harga pasar global. Tanpa hilirisasi nyata di tingkat desa, petani tetap menjadi price taker, penerima harga, bukan penentu harga. Di sektor peternakan, melemahnya permintaan menekan harga ayam dan sapi, sementara biaya produksi relatif kaku, sehingga margin peternak terus tergerus.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah turunnya Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) sebesar 2,04 persen. Ini adalah alarm keras bagi keberlanjutan usaha tani. Harga jual turun, tetapi biaya produksi justru naik. Jika tren ini berlanjut, banyak petani kecil berisiko tersingkir dari pertanian, berubah menjadi buruh tani, atau terpaksa melepas lahannya, memperlebar ketimpangan di pedesaan.

Satu-satunya titik terang datang dari perikanan tangkap yang naik 1,62 persen, namun kenaikan ini lebih disebabkan faktor alam, berkurangnya pasokan ikan, ketimbang keberhasilan kebijakan. Begitu siklus alam berubah, keuntungan ini bisa lenyap secepat ia datang.

Lampung memasuki 2026 dengan paradoks yang pahit. Panennya melimpah, tanahnya subur, tetapi daya beli petaninya kian meredup di balik angka NTP yang tampak “baik-baik saja.”

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *