Kinerja Perdagangan Luar Negeri Lampung 2025 Untung Besar

Sepanjang 2025, realisasi perdagangan luar negeri Lampung tercatat untung besar. Ekspor sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi 68,69 persen, industri pengolahan naik 13,48 persen, sementara pertambangan turun 16,43 persen.

LAMPUNG – Nilai ekspor Desember 2025 mencapai US$661,98 juta, naik 16,19 persen dibanding Desember 2024. Secara kumulatif Januari–Desember 2025, ekspor Lampung menembus US$6,637 miliar, tumbuh 18,78 persen dari US$5,588 miliar pada 2024. Kenaikan ini hampir seluruhnya berasal dari ekspor nonmigas, karena ekspor migas praktis nihil pada Desember.

Di sisi lain, impor justru melemah. Realisasi impor Desember 2025 sebesar US$162,51 juta, turun 14,35 persen dari Desember 2024. Untuk setahun penuh, impor Lampung mencapai US$2,068 miliar, menyusut 2,26 persen dibanding 2024.

Dengan konfigurasi ini, Lampung mencatat surplus neraca perdagangan US$4,569 miliar pada 2025, ditopang surplus nonmigas US$5,401 miliar, meski sektor migas tetap defisit US$832 juta.

Struktur ekspor Lampung sangat terkonsentrasi. Sepuluh komoditas utama nonmigas menyumbang 95,44 persen total ekspor nonmigas. Yang terbesar adalah lemak dan minyak nabati (40,46 persen), disusul kopi, teh, dan rempah (25,6 persen), lalu bahan bakar mineral (11,21 persen). Beberapa komoditas melonjak tajam, terutama berbagai produk kimia yang naik 117,51 persen, sementara ampas industri makanan turun 25,95 persen.

Pasar tujuan utama Lampung adalah Amerika Serikat (US$1,019 miliar), diikuti Pakistan (US$629,25 juta) dan Tiongkok (US$623,88 juta). Secara kelompok, 10 negara utama menyerap 56,04 persen ekspor Lampung, Uni Eropa 21,35 persen, dan ASEAN 10,16 persen.

Menurut sektor, realisasi ekspor 2025 didominasi industri pengolahan (US$4,175 miliar atau 62,9 persen), diikuti pertanian US$1,718 miliar (25,89 persen), dan pertambangan US$743,88 juta (11,21 persen).

Pada impor, struktur penggunaan barang menunjukkan ketergantungan besar pada bahan baku/penolong (87,61 persen) senilai US$1,811 miliar. Barang modal tercatat US$214,76 juta (10,38 persen), melonjak 266,83 persen. Sedangkan barang konsumsi anjlok menjadi hanya US$41,45 juta (2,01 persen) atau turun 73,29 persen.

Negara pemasok impor terbesar adalah Nigeria (US$354 juta), Amerika Serikat (US$314,06 juta), dan Australia (US$263,6 juta). Sepuluh negara utama menyumbang 93,03 persen total impor Lampung.

Di balik angka-angka ini, terbaca arah ekonomi Lampung yang ambivalen. Realisasi ekspor yang melonjak menunjukkan daya saing komoditas daerah, tetapi sekaligus menegaskan ketergantungan pada produk primer. Lampung kuat menjual minyak nabati dan kopi, namun masih lemah dalam menaikkan nilai tambah melalui hilirisasi yang lebih dalam.

Lonjakan ekspor produk kimia adalah sinyal kecil namun penting, yakni ada ruang diversifikasi yang mulai terbuka. Tetapi porsinya masih terlalu kecil untuk menggeser wajah struktural Lampung sebagai pemasok bahan mentah global.

Penurunan impor tidak otomatis berarti kemandirian. Yang tampak justru penyesuaian siklus ekonomi, bahwa konsumsi masih melemah, sementara impor barang modal naik tajam mengisyaratkan investasi yang mungkin belum terasa manfaatnya bagi lapangan kerja dan daya beli.

Ketergantungan impor bahan baku yang mencapai hampir 90 persen menandakan bahwa industri Lampung masih rapuh dalam rantai pasok. Surplus perdagangan besar lebih mencerminkan posisi Lampung sebagai pengekspor komoditas, bukan sebagai pusat produksi berteknologi tinggi.

Sementara, kebangkitan ekspor pertanian adalah kabar baik, tetapi harus bertransformasi menjadi agroindustri, bukan sekadar volume ekspor lebih besar. Tanpa itu, Lampung tetap rentan terhadap gejolak harga global.(i-nomics)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *