Ekonomi RI 2025 Tumbuh 5,11 Persen: Stabil, Tantangan Masih Menghadang

NOMICS.ID Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen (c-to-c), sedikit lebih tinggi dibanding capaian 2024 yang sebesar 5,03 persen. Pada Triwulan IV-2025, ekonomi melaju 5,39 persen (y-on-y) dan 0,86 persen (q-to-q). Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp23.821,1 triliun, sementara PDB per kapita menembus Rp83,7 juta atau sekitar USD 5.083. Angka-angka ini menegaskan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, namun belum menghapus tantangan struktural yang masih menghambat lompatan kualitas pertumbuhan.

Di balik capaian tersebut, struktur ekonomi semakin condong ke sektor jasa. Jasa Lainnya tumbuh 9,93 persen, disusul Jasa Perusahaan 9,10 persen, serta Transportasi dan Pergudangan 8,78 persen. Pergeseran ini menunjukkan ekonomi yang makin berbasis layanan, logistik, dan aktivitas modern yang terhubung dengan mobilitas serta digitalisasi. Meski positif bagi efisiensi, pergeseran ini belum otomatis memperkuat fondasi produktivitas nasional.

Sebaliknya, sektor Pertambangan dan Penggalian terkontraksi -0,66 persen (c-to-c), bahkan kembali minus -1,31 persen (y-on-y) pada Triwulan IV. Ini menjadi peringatan bahwa model pertumbuhan berbasis ekstraksi sumber daya alam semakin rapuh. Ketergantungan pada komoditas menghadapi tekanan harga global dan keterbatasan cadangan, sehingga tidak lagi memadai sebagai mesin utama pembangunan jangka panjang.

Sementara itu, Industri Pengolahan yang berkontribusi 19,07 persen terhadap PDB tumbuh 5,30 persen. Kinerja ini solid, tetapi belum mencerminkan lompatan menuju manufaktur berteknologi tinggi dan berdaya saing global. Industri Indonesia masih banyak bergerak di level menengah, belum sepenuhnya naik kelas ke rantai nilai yang lebih maju.

Dari sisi pengeluaran, ekonomi tetap didominasi konsumsi rumah tangga yang menyumbang 53,88 persen PDB dengan pertumbuhan 4,98 persen. Konsumsi menjadi bantalan stabilitas, tetapi ketergantungan berlebihan membuat ekonomi rentan jika daya beli melemah atau inflasi meningkat.

Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik tumbuh 5,09 persen, bahkan mencapai 6,12 persen (y-on-y) pada Triwulan IV, indikasi membaiknya kepercayaan investor. Tantangannya adalah memastikan investasi ini mengalir ke sektor-sektor produktif, bernilai tambah tinggi, dan berorientasi ekspor.

Ekspor barang dan jasa tumbuh 7,03 persen sepanjang 2025, namun melemah di akhir tahun dengan kontraksi -1,18 persen (q-to-q). Ini menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri masih rentan terhadap dinamika global.

Yang paling menonjol pada Triwulan IV adalah lonjakan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 37,68 persen (q-to-q), tanda dorongan fiskal yang kuat menjelang akhir tahun. Stimulus ini membantu menjaga pertumbuhan jangka pendek, tetapi tidak otomatis memperbaiki daya saing struktural ekonomi.

Secara spasial, ekonomi tetap sangat terpusat di Jawa yang menyumbang 56,93 persen PDB nasional dengan pertumbuhan 5,30 persen. Sumatera berkontribusi 22,22 persen, Kalimantan 8,12 persen, Sulawesi 7,22 persen, sementara Maluku dan Papua hanya 2,69 persen dengan pertumbuhan terendah 1,44 persen. Ketimpangan ini menunjukkan desentralisasi ekonomi masih berjalan lambat.

Secara keseluruhan, pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 mencerminkan stabilitas, bukan lompatan besar. Indonesia mampu bertahan di tengah tekanan global, tetapi tantangan struktural masih besar, mengurangi ketergantungan pada komoditas, mempercepat industrialisasi bernilai tambah tinggi, memperkuat produktivitas, dan meratakan pusat pertumbuhan di luar Jawa.

Tanpa perbaikan struktural tersebut, Indonesia berisiko terjebak di kisaran pertumbuhan 5 persen, cukup baik untuk bertahan, tetapi belum cukup untuk melompat menjadi negara berpendapatan tinggi secara berkelanjutan.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *