Lampung Panen Jagung Melimpah, Produksi Capai 1,26 Juta Ton

NOMICS.ID – Provinsi Lampung mencatat capaian signifikan pada komoditas jagung tahun 2025. Luas panen jagung pipilan mencapai 194,49 ribu hektare, meningkat 24,47 ribu hektare atau 14,39 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 170,02 ribu hektare. Peningkatan ini menjadi indikasi produktivitas pertanian yang stabil dan potensi ketahanan pangan daerah yang meningkat.

Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen (JPK-KA 14%) tercatat 1,26 juta ton, naik 151,74 ribu ton atau 13,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 1,11 juta ton. Kenaikan produksi ini didorong oleh puncak panen yang bergeser dari Maret 2024 menjadi Juli 2025, menandakan pola tanam yang lebih optimal.

Jika dipisahkan menurut jenis panen, jagung pipilan mendominasi dengan luas panen 194,49 ribu hektare, sementara panen hijauan dan panen muda masing-masing sebesar 3,85 ribu hektare dan 18,76 ribu hektare. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen (JPK-KA 28%) sepanjang 2025 mencapai 1,70 juta ton, tertinggi pada bulan Juli dengan 222,11 ribu ton.

Potensi luas panen jagung pipilan untuk periode Januari–Maret 2026 diperkirakan 68,03 ribu hektare, dengan potensi produksi 469,55 ribu ton JPK-KA 14 persen. Angka ini masih bersifat sementara dan dapat berubah berdasarkan realisasi data KSA dan Survei Ubinan Subround I 2026.

Metode penghitungan luas panen menggunakan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang dikembangkan BPS dan BRIN, dengan sampel segmen tetap dan pengamatan visual di empat titik per segmen. Data produksi jagung kemudian dihitung dari perkalian luas panen dengan produktivitas per hektare yang diestimasi melalui Survei Ubinan, dan dikonversi ke jagung pipilan kering sesuai standar konversi SKJG 2020.

Secara keseluruhan, capaian luas panen dan produksi jagung Lampung 2025 menunjukkan tren positif, menguatkan posisi Lampung sebagai salah satu penghasil jagung terbesar di Pulau Sumatera, sekaligus menandai keberhasilan optimalisasi lahan dan pola tanam di tengah dinamika harga komoditas dan tantangan iklim.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *