NOMICS.ID – Data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan perbaikan moderat di pasar tenaga kerja Indonesia pada November 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74 persen dari 4,85 persen pada Agustus 2025. Penurunan 0,11 poin ini menandai keberhasilan penyerapan sebagian angkatan kerja, meski tantangan kualitas dan distribusi pekerjaan tetap besar.
Jumlah angkatan kerja tercatat 155,27 juta orang, meningkat 1,26 juta dibanding Agustus 2025, dengan 147,91 juta orang bekerja, naik 1,37 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik menjadi 70,95 persen, mencerminkan keterlibatan lebih besar penduduk usia kerja, terutama laki-laki yang mencapai 84,83 persen dibanding perempuan 56,91 persen.
Lapangan usaha penyerap tenaga kerja terbesar tetap Pertanian, Perdagangan, dan Industri Pengolahan, masing-masing menyumbang 27,99 persen, 18,67 persen, dan 13,86 persen dari total penduduk bekerja. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, naik 0,381 juta orang. Sementara itu, sektor jasa lainnya mengalami penurunan, menunjukkan adanya pergeseran dinamika pasar kerja.
Karakteristik pekerjaan juga menunjukkan tren penting, 42,3 persen pekerja berada di kegiatan formal, meningkat tipis dari Agustus 2025, sedangkan mayoritas masih bekerja di sektor informal. Pekerja penuh mencapai 67,94 persen, sementara pekerja paruh waktu turun menjadi 24,24 persen. Pekerja komuter meningkat menjadi 7,97 juta orang, dengan sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi.
Tantangan ketenagakerjaan terlihat pada distribusi pengangguran menurut usia dan pendidikan. Kelompok muda 15–24 tahun memiliki TPT tertinggi 16,26 persen, jauh melebihi kelompok 25–59 tahun sebesar 2,98 persen dan 60 tahun ke atas 1,44 persen. Dari sisi pendidikan, tamatan Sekolah Menengah Kejuruan mengalami TPT tertinggi 8,45 persen, sementara SD ke bawah hanya 2,29 persen.
Rata-rata upah buruh nasional tercatat Rp3,33 juta, menunjukkan peningkatan nominal tetapi belum merata seiring dengan dominasi pekerjaan informal dan setengah pengangguran yang masih mencapai 7,81 persen. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa meski pengangguran menurun, tantangan utama pasar kerja Indonesia tetap pada tingginya pengangguran pemuda, dominasi pekerjaan informal, dan rendahnya kualitas tenaga kerja menengah. Ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan serta kesenjangan upah semakin menegaskan perlunya kebijakan yang lebih fokus pada peningkatan keterampilan dan produktivitas pekerja.(IWA)
