Lampu Neon yang Membakar Tubuh dan Dompet

@i-nomics

Malam di Lampung bukan sekadar turun,  tapi  jatuh, seperti gelas yang terlepas dari tangan dan pecah di lantai. Lampu neon karaoke menyala membabi buta, ungu menusuk, merah muda menyengat, biru menggigil. Dari jalan raya tampak meriah, dari dekat terasa seperti mulut raksasa yang menelan siapa saja yang masuk.

Di tepi jalan lintas yang lengang, lampu neon karaoke menyala memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang. Dari luar, bangunan itu terlihat ramah. Dari dalam, ia bekerja seperti mesin yang halus, menyedot tenaga, perasaan, perempuan-perempuan muda yang menghidupkannya. Juga merobek dompet-dompet pengunjung yang datang.

Pintu kaca terbuka, dan musik tumpah seperti arus yang tak bisa dibendung. Di balik dinding kedap suara, tawa berlapis, denting es beradu dengan botol, dan suara bass berdetak seperti jantung yang dipaksa berlari terlalu lama. Di ruang-ruang itu, para pemandu lagu (LC), melayang dari satu meja ke meja lain, dari bilik ke bilik, membawa senyum yang dijahit rapi, napas yang ditata, dan tubuh yang harus selalu tampak segar meski malam semakin larut.

Sesungguhnya, mereka tidak dipekerjakan untuk bernyanyi. Mikrofon hanyalah aksesori. Yang dihitung bukan nada, melainkan tatapan. Bukan teknik vokal, melainkan keelokan, Bukan kemampuan bermusik, melainkan keberanian menari di tepi batas. Karaoke telah berubah menjadi panggung sunyi di mana lagu hanyalah latar, dan tubuh perempuan adalah pusat yang menggerakkan ekonomi malam.

Di Lampung, panggung itu kian membesar. Lampu-lampu serupa kini berderet bukan hanya di pusat kota, tetapi telah merembes ke kecamatan-kecamatan. Ada di simpang pasar, di jalur truk, di pinggir kebun atau hutan, di dekat pabrik kecil hingga di depan irigasi.

Setiap titik cahaya baru melahirkan kebutuhan baru akan LC, karena tenaga kerja tak bernama itulah yang menghidupkan bisnis. Tanpa keberadaan mereka, bisnis cepat redup. Secara resmi mereka bukan karyawan. Tak ada kontrak yang melindungi, tak ada slip gaji yang menenangkan, tak ada BPJS yang menjamin hari esok. Namun setiap malam mereka tunduk pada aturan yang kaku, jam masuk, riasan, busana, cara duduk, cara tertawa, cara menolak tanpa membuat tamu tersinggung. Ketika ramai, mereka diperlakukan seperti mesin. Ketika sepi, mereka diperlakukan seperti bayangan.Ketika menunggu tamu, atau beristirahat mereka disatukan di ruangan besar, berbaring di atas hamparan kasur, mirip kamp pengungsi.

Untuk sekadar bertahan hidup, mereka harus membayar sendiri. Jika perut lapar, mereka harus membeli makan dari kantongnya sendiri. Perusahaan tak menyiapkan apa pun. Rias wajah yang tampak sempurna itu bukan fasilitas, melainkan beban. Bedak, lipstik, bulu mata, lensa kontak, hingga busana malam dibeli dengan uang mereka sendiri. Di sudut-sudut karaoke, perias membuka praktik kecil; para LC duduk bergantian, wajah diubah menjadi topeng gemerlap, dan uang berpindah tangan lagi.

Kecantikan menjadi modal yang harus terus dipelihara dengan biaya yang dipikul sendiri. Setiap garis eyeliner, setiap pasang bulu mata, setiap gaun ketat adalah investasi yang tak pernah diakui sebagai biaya kerja.

Di balik kilau itu, alkohol mengalir seperti air. Banyak LC terpaksa ikut minum setiap kali melayani tamu. Bukan pesta, melainkan kewajiban tak tertulis. Menolak berarti hilang kesempatan. Menjelang subuh, mereka berjalan pulang dengan langkah goyah, wajah masih berkilau tetapi tubuh rapuh, menembus gelap yang sunyi dan berisiko.

Dan di atas semua itu menggantung bayang-bayang utang.

Karena pendapatan tak menentu dan pintu bank tertutup, rentenir datang seperti bayangan yang ramah. Uang cair cepat, bunga menjerat lebih cepat lagi. Utang tumbuh seperti tanaman liar, mengikat mereka pada pekerjaan malam, membuat keluar terasa mustahil. Bukan lagi soal memilih, melainkan terperangkap.

Stigma menutup pintu lain. Di mata banyak orang, LC bukan pekerja, melainkan masalah. Label itu menempel lebih kuat daripada riasan apa pun. Ia membuat mereka diam ketika disakiti, membisu ketika diperas, dan menunduk ketika dipandang rendah.

Namun tanpa mereka, lampu-lampu itu mungkin akan redup. Tanpa mereka, botol mungkin tak habis, room mungkin kosong, omzet mungkin turun. Mereka adalah napas yang menggerakkan industri, tetapi napas itu sendiri dibiarkan sesak.

Menjelang dini hari, musik perlahan mereda. Lampu dipadamkan satu per satu. Wajah-wajah berkilau itu luntur menjadi manusia biasa, lelah, lapar, dan cemas. Di tas mereka terselip uang hasil malam yang tak pasti, juga daftar cicilan yang menunggu.

Esok malam lampu neon akan menyala lagi, menunggu tubuh-tubuh muda kembali berdiri di bawah cahaya yang memikat sekaligus membakar. Dan pertanyaan itu tetap menggantung di udara yang lembap, akankah Lampung terus membangun hiburannya di atas keringat, tubuh, dan utang perempuan-perempuan ini?

Sampai jawabannya datang, lampu akan tetap berpendar.
Dan di balik gemerlapnya, tali-tali tak terlihat akan terus menjerat.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *