Kolang Kaling: Cermin Ekonomi Lampung

Setiap Ramadan, kolang kaling selalu menjadi primadona. Ia seperti datang tiba-tiba, di lapak takjil, di gelas es buah dan mangkuk kolak. Disajikan sederhana,namunĀ  menyimpan cerita besar tentang cara Lampung mengelola alam, ekonomi, dan keadilan distribusi nilai.

Kolang kaling lahir dari pohon aren, pohon yang tumbuh alami di Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesawaran. Bagi masyarakat desa, aren adalah sumber hidup. Niranya jadi gula, ijuknya jadi sapu, batangnya jadi bahan bangunan, dan bijinya jadi kolang kaling, biasa disantap saat ramadan.

Tapai tahukah Anda, mereka yang paling dekat dengan sumber daya justru bukan yang paling menikmati nilai ekonominya.Terutama biji kolang kaling, yang menikmati nilai tambah adalah pedagang di kota.

Rantai ekonomi kolang kaling menunjukkan ketimpangan klasik daerah agraris. Petani aren bekerja paling berat, memanjat, memanen, merebus berjam-jam, mengupas, merendam, dan membersihkan. Tetapi harga yang mereka terima relatif rendah. Nilai ekonomi terbesar justru berpindah ke pengepul, distributor, dan terutama penjual takjil di kota.

Ramadan membuat permintaan melonjak, tetapi keuntungan utama tetap beredar di hilir, bukan di hulu. Ini cermin struktur ekonomi Lampung yang lebih luas, kaya sumber daya alam, tetapi lemah dalam pengolahan nilai tambah.

Kolang kaling seharusnya menjadi pintu masuk bagi kebijakan yang lebih berpihak pada desa. Lampung bisa mendorong koperasi pengolah aren, pelatihan standardisasi produk, hingga kemasan modern yang memungkinkan petani menjual kolang kaling setengah jadi dengan harga lebih baik. Tanpa itu, mereka akan tetap menjadi pemasok bahan mentah sementara kota menikmati marjin keuntungan.

Di sisi lain, kolang kaling juga mengajarkan pelajaran penting tentang keberlanjutan. Pohon aren tidak ditebang, tapi dipanen berulang kali. Ini contoh ekonomi sirkular yang sudah lama dipraktikkan masyarakat Lampung sebelum istilah itu populer. Tetapi keberlanjutan ekologis belum diikuti keberlanjutan kesejahteraan.

Ramadan sering disebut bulan keberkahan. Namun keberkahan sejati bukan hanya berbagi takjil, melainkan memastikan keadilan dalam rantai produksi makanan yang kita nikmati. Setiap sendok es buah dengan kolang kaling semestinya mengingatkan kita pada petani aren di perbukitan Lampung.

Jika Lampung serius ingin naik kelas, kolang kaling bisa menjadi simbol perubahan, dari daerah pemasok bahan mentah menjadi daerah yang mengolah, memberi nilai tambah, dan menyejahterakan produsen lokal.

Sampai saat itu terjadi, kolang kaling akan tetap manis di mulut, tetapi pahit di struktur ekonominya.

“Pak Gub, hilirisasi juga dong kolang kaling kita.”

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *