TIMUN SURI, DOA YANG TUMBUH DI LADANG LAMPUNG

Di antara hujan dan harapan, petani menanti panen Ramadan yang menentukan nasib ekonomi mereka.

Tahukah Anda, di sejumlah sentra pertanian Lampung saat ini ribuan petani timun suri tengah menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Sejak Januari mereka telah menanam buah khas Ramadan ini, dan kini masa panen semakin dekat, namun keberhasilan panen sangat bergantung pada cuaca. Hujan yang terlalu sering turun bisa membuat timun suri pecah, busuk, atau kualitasnya turun, sehingga para petani hanya bisa berharap langit bersahabat agar jerih payah mereka tidak sia-sia.

Di ladang-ladang Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Pesawaran, tanaman timun suri kini merambat lebat. Buahnya mulai membulat di sela daun hijau, menandai fase paling genting menjelang Ramadan, saat harapan petani bertemu dengan ketidakpastian alam.

Sejak Januari, para petani menghitung hari demi hari. Mereka menyiapkan lahan, menanam benih, merawat tanaman, dan berjaga agar tanah tidak terlalu basah. Bagi mereka, timun suri bukan sekadar tanaman musiman, tetapi penopang biaya hidup, sekolah anak, hingga kebutuhan dapur di bulan puasa.

Setiap pagi, banyak petani menyusuri bedengan tanah sambil menatap langit. Saat hujan turun berlebihan, kecemasan membesar: akar bisa membusuk, buah bisa retak, dan harga bisa jatuh. Namun ketika cuaca cerah, semangat kembali tumbuh, buah tampak mulus, berat, dan menjanjikan.

Di desa-desa sentra timun suri, kebun bukan hanya tempat kerja, tetapi ruang batin. Di sanalah doa dipanjatkan, harapan digenggam, dan kegelisahan disimpan. Sementara di kota, timun suri berubah menjadi es buah yang menyegarkan, jarang disadari bahwa di balik setiap potongannya ada keringat, risiko, dan kecemasan petani.

Musim Ramadan membuat timun suri menjadi komoditas bernilai tinggi, menggerakkan ekonomi kecil, buruh tani, pengepul, pedagang pasar, penjual sirup, hingga lapak takjil. Namun rantai nilai itu belum sepenuhnya adil bagi petani. Mereka menanggung risiko terbesar, sementara keuntungan sering menumpuk di hilir.

Timun suri bukan sekadar buah musiman untuk takjil Ramadan. Ia adalah metafora yang jujur tentang ekonomi Lampung. Tumbuh di tanah yang subur, tampak segar dan menjanjikan, namun rapuh di hadapan cuaca dan ketidakpastian. Di permukaan ia menghadirkan kesegaran dan harapan, tetapi di baliknya tersimpan kegelisahan petani yang bergantung pada alam, pasar, dan kebijakan yang sering kali tak berpihak.

Seperti timun suri yang berair dan menyejukkan, ekonomi Lampung terlihat tenang dari jauh, namun di dalamnya berdenyut perjuangan jutaan orang yang hidup dari tanah, hujan, dan kerja keras mereka sendiri. Jika Lampung ingin benar-benar maju, perlindungan terhadap petani, kepastian pasar, dan keberpihakan kebijakan harus menguat, bukan sekadar menikmati manisnya hasil panen.

Sebab tanpa itu, Lampung akan terus seperti timun suri di musim hujan. Indah dipandang, tetapi rentan pecah sebelum benar-benar matang.(i-nomics)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *