Lampung–Kuala Lumpur: Doa Sunyi Nan Syahdu di Bawah Langit Serumpun

@i-nomics

Kamis, 12 Februari 2026 siang itu, panas matahari terasa lembut menimpa landasan Bandara Radin Inten II. Tanpa seremoni berlebihan. Tanpa karpet merah. Tanpa pagar protokoler yang mencolok. Yang tampak justru barisan senyum aparatur sipil negara,  menyambut sebuah momentum yang telah lama dinanti, penerbangan internasional perdana menuju Kuala Lumpur International Airport.

Pesawat Airbus 320 itu tidak penuh. Dari sekitar 170 kursi, kurang lebih seratus terisi. Sebagian besar adalah perwakilan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan unsur travel. Penulis tidak berada dalam deretan kursi itu.

Dari dekat terlihat, apa yang kerap dipersepsikan sebagai pemborosan ternyata tidak sesederhana tudingan. Tidak ada perjalanan dinas luar negeri. Tidak ada pembiayaan APBD. Yang ada adalah keputusan pribadi untuk hadir, demi memancarkan satu pesan, Lampung siap tampil lagi di panggung internasional.

Pemerintah Provinsi Lampung sebelumnya sudah menegaskan batasnya.

“Kami tidak memaksa ASN untuk terbang. Sifatnya hanya imbauan agar informasi ini tersampaikan kepada stakeholder, pelaku usaha, maupun masyarakat yang memang memiliki kepentingan ke Malaysia,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan.

Penegasan itu bukan basa-basi. Di tengah kondisi fiskal daerah yang sedang defisit, kehati-hatian menjadi kata kunci. “Tidak ada anggaran dinas yang digunakan. Semua yang berangkat menanggung biaya sendiri,” tegasnya. Marindo sendiri tidak ikut terbang karena agenda bersama KPK, sementara Gubernur berada di luar daerah. Pemerintah hanya memastikan ada perwakilan yang hadir sebagai simbol komitmen, bukan seremoni kosong.

Penerbangan 12 Februari itu memang belum menjadi jadwal reguler. Ia adalah inaugural flight, penanda bahwa status internasional bandara kembali aktif setelah sempat vakum. Jadwal rutin direncanakan mulai awal Maret, dua kali sepekan. Artinya, siang itu adalah pembuka pintu, pengetuk langit. Belum arus besar, tetapi arah sudah ditentukan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, secara simbolis, melepas penerbangan perdana (inaugural flight) rute Lampung–Kuala Lumpur, Malaysia, di Bandara Radin Inten II, Natar, Lampung Selatan, Kamis (12/2/2026).

Momentum ini menandai kembalinya status Bandara Radin Inten II sebagai bandara internasional setelah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 37 Tahun 2025. Rute Kuala Lumpur menjadi penerbangan internasional pertama yang kembali beroperasi sekaligus langkah awal penguatan konektivitas global Provinsi Lampung.

Dalam acara penerbangan perdana ini juga dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Lampung, CEO Regional III PT Angkasa Pura, serta Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Soekarno-Hatta.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyampaikan bahwa momen ini menjadi tonggak kebangkitan kembali Bandara Radin Inten II sebagai gerbang internasional.

“Alhamdulillah, akhirnya hari ini Bandara Radin Inten II kembali berstatus sebagai bandara internasional. Insya Allah, status ini akan semakin mempercepat akselerasi pembangunan dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah yang kita cintai, Provinsi Lampung,” ujarnya.

Namun makna terdalam siang itu justru tidak berada pada podium atau daftar penumpang. Di apron yang sederhana itu, berdiri seorang pria dengan jaket biru bertuliskan “Lampung Maju” di punggungnya. Ia tidak masuk dalam barisan pejabat. Tidak pula sibuk berswafoto. Ia berdiri sedikit terpisah, memandangi pesawat dengan sorot mata yang tenang.

Diduga ia adalah pekerja migran yang bekerja di Malaysia. Mungkin ia hendak kembali setelah pulang sejenak. Mungkin pula ia baru saja tiba dan bersiap kembali menyeberang. Tulisan di punggungnya terasa lebih kuat daripada spanduk mana pun. “Lampung Maju” di sana bukan slogan administratif. Ia seperti doa yang berjalan.

Jika Lampung benar-benar maju, apakah suatu hari orang-orang seperti dirinya tidak perlu terlalu lama meninggalkan kampung halaman? Jika konektivitas ini berhasil, apakah ia tidak hanya menjadi tenaga kerja di negeri jiran, tetapi juga jembatan promosi, menceritakan pantai Lampung, kopinya, budayanya, kepada rekan-rekannya di Malaysia?

Di situlah penerbangan ini menemukan bobotnya.

Bagi pemerintah, rute Lampung–Kuala Lumpur adalah strategi membuka kembali konektivitas yang lama terhenti. Status internasional bukan sekadar papan nama, melainkan arus manusia dan barang yang hidup.

Bagi pelaku usaha, ini adalah pintu pasar. Malaysia bukan hanya tujuan kerja ribuan warga Lampung, tetapi juga sumber wisatawan potensial, dengan karakter keluarga, menyukai paket praktis, kuliner halal, dan destinasi yang ramah.

Bagi ASN yang hadir, ini bukan perjalanan dinas, melainkan partisipasi pribadi agar kursi tidak kosong, agar maskapai melihat keseriusan daerah.

Dan bagi pria berjaket biru itu, ini adalah jembatan pulang-pergi antara harapan dan kenyataan.

Suara mesin pesawat menguat. Tangga ditarik perlahan. Beberapa tangan melambai. Tidak ada sorak sorai. Yang ada justru kesunyian dan doa yang dalam, sebuah kesadaran bahwa ujian sesungguhnya bukan hari ini.

Apakah kursi-kursi itu akan terisi ketika jadwal reguler dimulai? Apakah promosi wisata akan konsisten? Apakah ekosistem, hotel, UMKM, transportasi, digital marketing, akan benar-benar tersambung? Apakah sejarah kegagalan masa lalu tidak terulang?

Ketika roda pesawat akhirnya terangkat dari landasan Radin Inten II, tulisan “Lampung Maju” di punggung jaket biru itu ikut menjauh, menyeberangi Selat Malaka. Kalimat itu kini menjadi tantangan terbuka. Bukan lagi jargon. Bukan lagi sekadar branding.

Lampung sedang mencoba lagi. Dengan kehati-hatian fiskal. Dengan komitmen sukarela. Dengan simbol yang sederhana tetapi kuat.

Karena kemajuan sejati tidak diukur dari karpet merah yang dibentangkan, melainkan dari konsistensi menjaga penerbangan itu tetap hidup, datang dan pergi, membawa wisatawan, peluang, investasi, dan kepercayaan diri baru.

Jika pesawat itu terus kembali, maka suatu hari tulisan “Lampung Maju” tidak hanya terbang di punggung jaket seorang pekerja migran. Ia akan mendarat nyata di tanahnya sendiri.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *