@i-nomics
Suryadi berdiri di tengah sawahnya yang menguning, membiarkan matanya menelusuri barisan jagung yang hampir siap panen. Ia baru saja membaca berita yang mengabarkan produksi jagung dan padi melonjak, menggambarkan keberhasilan dan tegas menyatakan sektor pertanian kokoh menjadi fondasi pertumbuhan Lampung.
Suryadi tersenyum tipis, tapi senyum itu hanyalah topeng. Ia lebih mempercayai angka Nilai Tukar Petani (NTP) 105 yang menempel di ponselnya. Itu berarti hanya sedikit di atas titik impas. “Panen melimpah, tapi menanam lagi tetap sulit,” gumamnya, suara berat, seperti menelan kenyataan pahit yang tak habis-habis.
Ladangnya hampir seluas lapangan sepak bola, tapi setiap helai jagung seakan berbisik, keberhasilan itu bukan untuknya. “Kemarin panen padi kami melimpah, katanya. Tapi untungnya tipis,” kata Suryadi, menunduk, melihat tanah yang ia rawat sejak benih pertama.
Di desanya, nasib serupa menghantui banyak petani. Rasman, petani jagung di Lampung Timur, menimpali dengan senyum pahit: “Kalau panen bersamaan, harga jatuh. Kalau panen bergilir, air tidak cukup. Mau bikin sumur bor tak punya duit. Repot. Begini terus.”
Mendengar itu, Ibu Lestari, petani padi berusia 52 tahun, mengangkat bahu. Matanya menatap sawah yang jauh di depan. “Kami menanam, kami merawat, tapi hidup tetap tipis. Laporan pemerintah bilang panen meningkat, tapi kantong kami? Tetap kosong. Katanya panen melimpah berkah bagi petani. Saya rasa berkah itu hanya untuk papan publikasi.”
Tono, petani muda yang baru beberapa musim menanam jagung. Ia penasaran, lalu tergerak menatap layar ponselnya dengan ragu. “Semua angka produksi terlihat cantik di sini,” katanya sambil mengetuk layar. “Tapi apakah layar itu bisa bayar pupuk saya? Sekolah anak saya? Sumur bor yang tak ada?” Senyumnya tipis, tapi nada suaranya penuh frustrasi yang tersembunyi di balik kata-kata.
Masalahnya tidak hanya angka. Pola panen serentak menjadi jebakan struktural. Lampung Tengah, Timur, dan Selatan memanen hampir bersamaan. Pasokan membanjiri pasar, harga merosot, dan petani terpaksa menjual cepat agar hasil panen tidak rusak.
“Kalau bisa panen bergilir, akan lebih baik,” kata Suryadi. “Tapi tanpa air sepanjang tahun, siapa yang berani mencoba? Tanah kering, pompa terbatas, sumur bor tidak cukup. Jadi panen serentak tetap terjadi, dan kami terus ditekan harga.”
Di warung desa, beberapa petani muda berkumpul. Suara mereka campur antara canda dan sarkasme. “Panen kita bagus, katanya,” ujar Tono. “Tapi yang bagus itu laporan di provinsi, bukan kantong kita.” Marno, petani lain, menambahkan dengan tangan terlipat di dada: “CSR katanya untuk kita, mana barangnya?”
Pemerintah Provinsi Lampung mendorong perusahaan menyalurkan CSR untuk pendidikan, infrastruktur, dan pascapanen, bahkan memberi penghargaan melalui Lampung CSR Award. Tapi bagi para petani, penghargaan itu seperti cek kosong.
Suryadi membayangkan, jika pembangunan sumur bor meningkat setiap tahun, pola tanam bisa diatur, panen tersebar, harga stabil, dan NTP petani meningkat. Bayangan itu terasa seperti fiksi di dunia nyata. CSR yang difokuskan pada infrastruktur air akan memberi dampak nyata bagi kehidupan petani, bukan sekadar simbolik. Lampung tidak boleh mengkhianati fondasi pertumbuhannya sendiri.
Senja merayap di ujung ladang. Suryadi tersenyum tipis, sarkastik dan cemas sekaligus. Bagi pemerintah, panen melimpah adalah cerita keberhasilan. Bagi Suryadi, Rasman, Ibu Lestari, Tono, dan ribuan petani lain, itu hanyalah ironi tajam. Mereka tetap menanam, tetap merawat, tetap berharap, meski hanya laporan yang benar-benar panen, headline berhari-hari.
Suryadi menatap anak-anaknya bermain di sela jagung dan padi. Mereka akan mewarisi tanah yang sama, tantangan yang sama, ketidakpastian yang sama. Tapi kali ini, mereka menanam dengan mata terbuka, hati waspada, dan sarkasme pahit. Panen melimpah, namun kehidupan tetap bertaruh pada angka yang tak pernah benar-benar berpihak.
Angin malam menutup ladang. Gemerisik daun padi dan jagung terdengar seperti bisikan terakhir, “Panen melimpah harus dirasakan, bukan hanya tercatat. Jangan biarkan laporan menjadi panen yang lebih kaya dari kita.”
Dan di sanalah absurditasnya. Tanah subur, ladang luas, panen gemilang, tapi kantong tetap kosong, harapan rapuh, dan fondasi ekonomi Lampung yang seharusnya kokoh di pertanian pangan terus digoyang oleh angka, simbol, dan janji-janji kosong.
“Kami siap tanam dan panen giliran, tapi tolong buatkan kami sumur bor. Yakinlah, kami siap mengalirkan pertumbuhan ekonomi lebih deras,” tutur Suryadi melenggang pulang.***
