Langit di atas Gunung Sugih, Rabu (18/2/2026) pagi itu belum sepenuhnya panas ketika arak-arakan mulai bergerak pelan. Dari rumah dinas menuju Sesat Agung Nuwo Balak, langkah demi langkah diisi bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh ingatan kolektif yang telah diwariskan jauh sebelum panggung-panggung seremoni dibangun.
Hari itu, tradisi Blangikhan digelar.
Bukan sekadar agenda budaya, melainkan sebuah cara lama untuk menyapa waktu yang baru, menyambut Ramadan dengan tubuh yang disucikan dan batin yang dilapangkan.
Ketika prosesi “turun mandi” dimulai, air menjadi pusat dari segalanya. Ia tidak hanya menyentuh kulit, tetapi juga membawa pesan yang lebih dalam tentang membersihkan diri dari hal-hal yang tak kasat mata, dendam, kesalahan, kelelahan hidup yang menumpuk diam-diam.
Di tengah prosesi itu, para muli mekhanai, simbol generasi muda, menjadi wajah yang disucikan. Ada kesinambungan yang dijaga bahwa tradisi ini bukan milik masa lalu, tetapi sedang dipinjam oleh masa kini untuk diserahkan kembali ke masa depan.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela menyebutnya sebagai kesiapan hati. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi mengandung lapisan makna, bahwa Ramadan tidak datang hanya sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai ruang untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Nama-nama besar hadir. Dari pusat hingga daerah. Dari pemerintah hingga tokoh adat. Majelis Penyimbang Adat Lampung, DPP Lampung Sai, hingga perwakilan pusat seperti Ni Luh Puspa.
Sambutan disampaikan. Data dipaparkan. Harapan dilontarkan.
Tentang pariwisata. Tentang potensi ekonomi. Tentang peluang Blangikhan masuk dalam kalender nasional, bahkan mendunia, seperti Melukat di Bali.
Semua itu penting. Bahkan mungkin perlu.
Namun, di balik itu semua, Blangikhan sesungguhnya tidak pernah lahir dari panggung.
Ia lahir dari kebutuhan manusia untuk merasa bersih, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan sesama.
Sebelum menjadi acara besar, sebelum dihadiri pejabat, sebelum disebut sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019, Blangikhan adalah praktik yang sederhana.
Ia dilakukan tanpa sorotan. Tanpa dokumentasi. Tanpa target kunjungan wisata.
Orang-orang mandi bersama di sungai atau sumber air. Mereka saling menyapa, saling memaafkan, saling mengingatkan bahwa hidup tidak hanya tentang bekerja dan bertahan, tetapi juga tentang berhenti sejenak membersihkan diri.
Tidak ada baliho. Tidak ada panggung.
Yang ada hanya air, manusia, dan kesadaran.
Blangikhan adalah warisan budaya yang harus dijaga. Narasi tentangnya bisa meluas sebagai potensi ekonomi, kunjungan wisatawan, promosi daerah, keterlibatan UMKM. Blangikhan harus tetap tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Namun, selalu ada pertanyaan yang mengendap pelan:
Ketika tradisi dikemas, apakah maknanya tetap utuh?
Atau justru perlahan berubah menjadi tontonan?
Ketua MPAL, Rycko Menoza SZP, menyebut Blangikhan bukan sekadar seremoni. Ia adalah nilai, etika, dan filosofi hidup masyarakat Lampung.
Kalimat itu seperti pengingat yang penting.
Bahwa esensi Blangikhan bukan pada seberapa banyak orang datang, atau seberapa besar panggung dibangun. Tetapi pada seberapa dalam manusia benar-benar “membersihkan” dirinya.
Karena air bisa saja menyentuh kulit,
tetapi tidak semua orang benar-benar membasuh hatinya.
Di ujung acara, kendi dipecahkan. Sebuah simbol dimulainya Blangikhan.
Air mengalir. Orang-orang tersenyum. Kamera menangkap momen.
Namun yang tidak tertangkap adalah apa yang terjadi di dalam diri masing-masing, barangkali ada yang benar-benar melepaskan beban, ada yang diam-diam memaafkan, ada yang mulai menata ulang niat hidupnya.
Dan mungkin, di situlah Blangikhan menemukan maknanya yang paling jujur.
Bukan pada seremoni.
Bukan pada pariwisata.
Bukan bahkan pada tradisinya sendiri.
Melainkan pada momen ketika manusia, untuk sesaat, berhenti menjadi rumit,
dan kembali menjadi bersih.
Seperti air.
