JAKARTA – Pemerintah menyatakan stok beras nasional dalam kondisi kuat dan terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini dinilai menjadi modal penting untuk menjaga swasembada pangan sekaligus membuka peluang ekspor ke sejumlah negara.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan stok beras saat ini mencapai sekitar 3,5 juta ton dan berpotensi menembus 6 juta ton jika tren produksi bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
“Kalau tren ini bertahan, stok kita bisa tembus 6 juta ton. Ini capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Pertanian di Jakarta, 24 Februari 2026.
Peningkatan stok ditopang oleh kenaikan pengadaan beras pada Januari yang mencapai 78 persen dibandingkan periode sebelumnya. Produksi juga diperkirakan terus meningkat seiring panen raya dan tren kenaikan produksi sekitar 15 persen hingga Maret.
Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun, pemerintah memperkirakan potensi surplus beras dapat mencapai sekitar 9 juta ton.
Dengan kondisi stok yang kuat, pemerintah mulai menjajaki peluang ekspor beras ke sejumlah negara, antara lain Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini.
“Kalau tidak ada kendala dalam tiga bulan ke depan, kita siap ekspor,” kata Amran.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa keberlanjutan swasembada tidak hanya bergantung pada produksi jangka pendek. Penguatan dilakukan melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Tahun lalu, realisasi cetak sawah mencapai sekitar 200 ribu hektare dan ditargetkan meningkat menjadi 250 ribu hektare tahun ini. Program optimalisasi lahan juga telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah juga mencatat masih ada komoditas yang menjadi perhatian, seperti kedelai dan bawang putih, yang belum mencapai swasembada.
Menteri Pertanian menegaskan seluruh jajaran pusat dan daerah diminta menjaga momentum produksi serta memastikan program berjalan efektif guna mempertahankan surplus dan mendukung rencana ekspor.(IWA)
