Kemarau 2026 di Depan Mata, Pertanian Lampung Harus Susun Langkah Mitigasi

Lampung — Prakiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sekitar April 2026. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Juni hingga September. Namun di Lampung, perhatian terhadap datangnya musim kering itu mulai menguat lebih awal, terutama di sektor pertanian yang sangat bergantung pada kepastian air.

Meski demikian, penting diluruskan bahwa hingga kini tidak ada pernyataan resmi dari BMKG yang menyebut kemarau panjang ekstrem akan terjadi pada 2026. Proyeksi iklim nasional justru menunjukkan kondisi yang cenderung normal, berbeda dengan situasi 2023 ketika fenomena El Niño kuat memicu kemarau panjang di banyak wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan iklimnya, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada fase akhir musim hujan sepanjang Februari hingga Maret 2026. Periode ini dikenal sebagai masa peralihan atau pancaroba, ketika hujan masih mungkin turun tetapi tidak lagi merata dan intensitasnya mulai menurun.

Pada fase tersebut, pola hujan biasanya menjadi lebih tidak menentu. Dalam satu wilayah bisa saja terjadi jeda hujan yang cukup panjang, sementara di wilayah lain masih turun hujan dengan intensitas sedang. Kondisi seperti ini sering memunculkan persepsi bahwa musim kemarau sudah datang lebih awal, padahal secara klimatologis wilayah tersebut masih berada dalam masa transisi musim.

Bagi sektor pertanian, fase peralihan ini justru menjadi periode yang paling krusial. Petani harus menentukan waktu tanam dengan perhitungan yang cermat agar tanaman tidak kekurangan air ketika kemarau benar-benar mulai terjadi beberapa bulan kemudian.

Lampung sendiri merupakan salah satu daerah dengan ketergantungan tinggi pada pola musim. Komoditas seperti padi, jagung, singkong, dan berbagai tanaman hortikultura sangat dipengaruhi oleh perubahan curah hujan serta ketersediaan air irigasi.

Jika jadwal tanam tidak disesuaikan dengan dinamika musim, risiko gagal panen dapat meningkat, terutama ketika periode kering datang lebih cepat atau berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Di sisi lain, karakter iklim Sumatra, termasuk Lampung, memiliki pola yang sedikit berbeda dibandingkan wilayah Jawa. Pengaruh sistem cuaca dari Samudra Hindia membuat hujan sporadis masih mungkin terjadi bahkan ketika sebagian wilayah lain sudah memasuki musim kemarau.

Karena itu, batas antara musim hujan dan kemarau di Sumatra sering tidak terlalu tegas. Hujan masih bisa turun pada periode kemarau, sementara jeda hujan juga bisa terjadi lebih awal pada akhir musim hujan.

Meski proyeksi 2026 menunjukkan kondisi iklim yang relatif normal, BMKG tetap mengingatkan beberapa risiko yang biasanya muncul pada musim kemarau. Di antaranya adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra, penurunan debit air sungai dan irigasi, serta kemungkinan kekeringan lokal di beberapa daerah.

Bagi Lampung, isu ini memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan musim. Provinsi ini merupakan salah satu pusat produksi pangan penting di Sumatra, terutama untuk komoditas jagung, padi, dan singkong.

Karena itu, sinyal datangnya musim kemarau seharusnya menjadi momentum bagi sektor pertanian untuk mulai menyusun langkah mitigasi. Penyesuaian kalender tanam, penguatan pengelolaan irigasi, hingga antisipasi kekeringan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas produksi.

Kemarau 2026 memang belum dimulai. Namun dengan perkiraan datangnya musim kering sekitar April dan puncaknya pada pertengahan tahun, waktu yang tersedia untuk bersiap sebenarnya tidak terlalu panjang. Bagi pertanian Lampung, kesiapan menghadapi perubahan musim menjadi kunci agar produksi tetap terjaga di tengah dinamika iklim yang semakin sulit diprediksi.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *