Hujan deras yang masih mengguyur sejumlah wilayah belakangan ini sering menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di satu sisi, prakiraan iklim menyebut musim kemarau akan segera datang dalam waktu dekat. Namun di sisi lain, hujan justru turun dengan intensitas tinggi, bahkan memicu banjir di beberapa kota. Sekilas keadaan ini terasa seperti paradoks alam, ketika kemarau mendekat, hujan justru tampak semakin ekstrem.
Dalam ilmu klimatologi, fenomena tersebut sebenarnya bukan hal yang aneh. Justru pada masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau yang biasanya berlangsung sekitar Maret hingga April, atmosfer berada dalam kondisi paling tidak stabil. Periode ini dikenal sebagai masa pancaroba, saat dua karakter musim yang berbeda saling bertemu dalam satu sistem cuaca yang sama. Periode ini, seringkali kurang menjadi perhatian pemerintah sehingga terkaget-kaget ketika banjir datang.
Pada masa ini, udara panas dari permukaan bumi bertemu dengan sisa massa udara lembap yang masih tersimpan dari musim hujan. Pertemuan tersebut memicu proses konveksi yang kuat di atmosfer. Awan-awan hujan dapat terbentuk dengan cepat, tumbuh tinggi dalam waktu singkat, lalu melepaskan hujan dengan intensitas sangat deras.
Jenis awan yang paling sering muncul dalam situasi ini adalah awan cumulonimbus, awan badai yang identik dengan hujan lebat, angin kencang, dan petir. Hujan yang dihasilkan biasanya tidak berlangsung lama, sering kali hanya satu hingga dua jam. Namun dalam durasi singkat itu, curah hujan dapat sangat besar sehingga cukup untuk memicu genangan bahkan banjir di banyak titik.
Karena sifatnya yang lokal dan terbentuk dengan cepat, hujan pancaroba sering terasa datang tiba-tiba. Langit yang sebelumnya cerah dapat berubah menjadi gelap dalam waktu singkat, disusul hujan deras yang mengguyur sebuah kawasan secara intens.
Dampak hujan singkat namun ekstrem ini biasanya terasa lebih berat di wilayah perkotaan. Permukaan tanah yang semakin banyak tertutup beton dan aspal membuat air hujan tidak lagi mudah meresap ke dalam tanah. Saluran drainase yang terbatas, penyempitan aliran air, serta sedimentasi pada kanal-kanal kota memperburuk kemampuan lingkungan untuk mengalirkan limpasan air.
Akibatnya, hujan deras yang berlangsung hanya dalam waktu singkat pun dapat dengan cepat memicu genangan di jalan, permukiman, hingga kawasan perdagangan. Kota-kota yang berkembang pesat tanpa diimbangi sistem pengendalian air yang memadai menjadi semakin rentan terhadap banjir sesaat.
Fenomena ini menjelaskan mengapa banjir masih bisa terjadi meskipun musim kemarau diperkirakan segera tiba. Secara klimatologis, periode Maret hingga April memang sering menjadi masa ketika hujan ekstrem lokal masih muncul sebelum intensitasnya perlahan berkurang memasuki Mei. Setelah itu, kemarau biasanya mulai menguat dan mencapai puncaknya sekitar Juli hingga September.
Di wilayah Sumatra bagian selatan, termasuk Lampung, pembentukan hujan konvektif juga dipengaruhi oleh kedekatan dengan Samudra Hindia yang memasok uap air dalam jumlah besar ke atmosfer. Pemanasan daratan yang kuat pada siang hari sering mempercepat proses pembentukan awan hujan pada sore hingga malam hari. Karena itu, meskipun kemarau mulai mendekat, hujan lebat masih dapat muncul secara tiba-tiba.
Apa yang tampak sebagai paradoks sebenarnya adalah bagian dari dinamika alam yang wajar. Menjelang kemarau, atmosfer belum sepenuhnya kehilangan kelembapan yang diwariskan oleh musim hujan. Selama energi dan uap air itu masih tersimpan di langit tropis, hujan ekstrem masih dapat terjadi, singkat, tiba-tiba, tetapi cukup kuat untuk mengingatkan bahwa alam selalu bergerak dalam ritme yang tidak sederhana. (IWA)
