Bandar Lampung — Pengelolaan hutan di Indonesia mulai bergerak menuju paradigma baru. Kawasan hutan tidak lagi dipandang semata sebagai sumber kayu, melainkan sebagai ruang produksi berbagai komoditas bernilai tinggi yang dikelola secara terpadu dan berkelanjutan.
Dalam kerangka itu, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) memperkuat kolaborasi dengan kalangan akademisi untuk mempercepat pengembangan Multiusaha Kehutanan (MUK) di Lampung.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan Ketua Umum APHI Soewarso dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kuswanta Futas Hidayat, yang membicarakan pengembangan riset, model pengelolaan berbasis tapak, serta pembangunan demplot atau pilot project MUK di Lampung.
Soewarso menegaskan pengembangan multiusaha kehutanan membutuhkan kolaborasi erat antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat agar dapat berkembang menjadi model usaha kehutanan berskala industri.
“Multiusaha kehutanan harus dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak sehingga dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian sekaligus meningkatkan nilai tambah kawasan hutan,” ujarnya.
Menurutnya, Lampung memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan MUK, mulai dari kondisi lahan yang relatif subur, aksesibilitas kawasan yang memadai, hingga pengalaman masyarakat dalam mengelola komoditas kehutanan dan pertanian.
Pengembangan MUK di daerah ini akan diarahkan pada penguatan tata kelola usaha berbasis prinsip Sustainable Forest Management, sekaligus memperkuat rantai nilai dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Kuswanta Futas Hidayat menilai Lampung memiliki basis komoditas kuat untuk mendukung model tersebut, seperti kopi, cokelat, kemiri, dan pala.
Ia mencatat sekitar 60 persen produksi kopi Lampung berasal dari kawasan hutan, yang menunjukkan besarnya potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) untuk dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan berkelanjutan.
Pengembangan pilot project, menurutnya, dapat dilakukan di sejumlah kawasan potensial, termasuk Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman.
Kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi ini diharapkan mampu melahirkan model pengelolaan hutan yang produktif, inklusif, sekaligus berkelanjutan serta membuka peluang bagi Lampung menjadi contoh transformasi ekonomi hutan di Indonesia.(iwa)
