Malam Nuzulul Qur’an di Masjid Raya Al-Bakrie: Ketika Lampung Menyatu dalam Cahaya Al-Qur’an

Di sebuah malam Ramadan yang tenang, Masjid Raya Al-Bakrie di Kota Bandarlampung dipenuhi jamaah. Cahaya lampu masjid berpadu dengan lantunan ayat suci, menciptakan suasana khidmat yang mengingatkan umat pada peristiwa agung turunnya Al-Qur’an.

Malam itu, Pemerintah Provinsi Lampung menggelar peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah, sebuah momentum spiritual yang tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ajang mempererat kebersamaan antara pemimpin daerah, ulama, dan masyarakat.

Ketua DPRD Provinsi Lampung Giri Akbar hadir bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam kegiatan yang berlangsung di Masjid Raya Al-Bakrie, Sabtu (7/3).

Kehadiran para pimpinan daerah menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah pribadi, tetapi juga saat memperkuat hubungan sosial dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Lampung.

Sejumlah tokoh nasional dan daerah juga tampak mengikuti rangkaian acara, di antaranya Anggota DPR RI Dwita Ria Gunadi, Ketua TP PKK Provinsi Lampung Purnama Wulan Sari Mirza, serta Ketua Ikatan Keluarga Anggota DPRD (IKAD) Provinsi Lampung Irene Fransisca.

Peringatan Nuzulul Qur’an diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan keagamaan. Jamaah mendengarkan tausiah yang mengingatkan kembali tentang makna turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia.

Doa bersama pun dipanjatkan, memohon keberkahan bagi masyarakat Lampung serta harapan agar nilai-nilai Al-Qur’an terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan itu, santunan juga diberikan kepada anak-anak yatim. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kepedulian sosial kepada sesama.

Di tengah perkembangan zaman yang penuh tantangan, peringatan Nuzulul Qur’an menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

Bagi masyarakat Lampung, malam itu bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya lahir dari pembangunan fisik, tetapi juga dari nilai spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang terus dirawat.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *