Lampung di Posisi Strategis Hilirisasi Pertanian Nasional

JAKARTA — Pemerintah memperkuat kolaborasi riset dan inovasi untuk mendorong swasembada pangan berkelanjutan serta hilirisasi komoditas pertanian nasional. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional di kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Kesepakatan ini menyatukan pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi agar inovasi pertanian tidak berhenti pada penelitian, tetapi dapat diterapkan langsung di sektor produksi dan industri.

“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi sangat baik, tetapi kalau tidak masuk ke kebijakan dan industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” kata Amran.

Kerja sama ini mencakup pengembangan riset berbagai komoditas strategis nasional seperti padi, jagung, kedelai, sorgum, bawang putih, sawit, kelapa, kopi, kakao hingga teknologi pascapanen dan alat mesin pertanian.

Posisi Lampung

Dalam peta besar swasembada pangan nasional, Lampung menempati posisi strategis karena memiliki kekuatan pada beberapa komoditas utama sekaligus.

Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional, yang berperan penting dalam menjaga pasokan pakan ternak dan stabilitas pangan. Selain itu, provinsi ini juga menjadi produsen utama singkong di Indonesia, yang menjadi bahan baku industri tepung tapioka dan berbagai produk pangan olahan.

Di sektor tanaman pangan, Lampung juga memiliki produksi padi yang terus berkembang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan regional.

Tidak hanya pada sisi produksi, Lampung juga berkembang sebagai basis hilirisasi komoditas perkebunan, terutama kelapa sawit.

Data Badan Pusat Statistik mencatat ekspor produk turunan kelapa sawit dari Lampung sepanjang Januari–November 2025 mencapai sekitar 2,05 juta ton dengan nilai sekitar US$2,35 miliar.

Jika dibandingkan dengan total ekspor sawit nasional yang mencapai sekitar 32,3 juta ton, kontribusi Lampung berada di kisaran 6–7 persen. Menariknya, sebagian besar ekspor tersebut bukan berupa bahan mentah, tetapi produk olahan bernilai tambah seperti refined palm oil dan berbagai turunan minyak sawit lainnya.

Struktur ini menunjukkan bahwa Lampung bukan hanya daerah penghasil komoditas pertanian, tetapi juga pusat pengolahan yang memperkuat rantai nilai industri pertanian nasional.

Dengan kombinasi produksi padi, jagung, dan singkong serta berkembangnya industri pengolahan sawit, Lampung menjadi salah satu daerah yang berada di garis depan dalam agenda swasembada pangan dan hilirisasi pertanian Indonesia.(IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *