BANDARLAMPUNG — Pemerintah mendorong generasi muda terjun ke sektor pangan dengan menyiapkan bantuan sarana produksi hingga akses pembiayaan usaha. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat produksi lokal sekaligus mendorong hilirisasi komoditas, sehingga nilai tambah pangan tetap dinikmati di daerah.
Di Lampung, inisiatif ini dianggap strategis karena provinsi ini merupakan salah satu sentra produksi pangan nasional, terutama beras, jagung, dan produk hortikultura, yang pasokannya menjadi penopang kebutuhan Pulau Jawa dan wilayah lain. Pemerintah berharap peran pemuda dalam hilirisasi tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung secara signifikan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan bahwa potensi komoditas lokal Lampung senilai lebih dari Rp100 triliun belum dimanfaatkan secara optimal. Hilirisasi, kata dia, menjadi kunci untuk menciptakan produk bernilai tambah—misalnya pisang yang diolah menjadi keripik atau olahan lain bisa meningkat nilainya berkali lipat.
“Lampung punya posisi strategis karena dekat dengan pasar besar di Pulau Jawa. Generasi muda harus memanfaatkan potensi ini dengan kreativitas dan inovasi agar ekonomi daerah tumbuh,” ujarnya.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menambahkan, pemerintah tidak hanya menyiapkan sarana produksi, tetapi juga membuka akses pembiayaan dan pelatihan teknis bagi pemuda yang ingin mengembangkan usaha hilirisasi pangan.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal Lampung, mendorong produktivitas, dan memperkuat ekosistem usaha pangan yang inklusif bagi generasi muda.
Hal itu dipertegas oleh Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan. “Kami meyakini Lampung berpeluang menjadi sentra hilirisasi komoditas strategis, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional. (iwa)
