Pagi itu, suasana di RSUD Abdul Moeloek tidak sepenuhnya sunyi. Di antara langkah pelan pasien dan aroma khas ruang perawatan, ada hal lain yang terasa, yakni keteguhan yang diam-diam tumbuh di tengah keterbatasan.
Di bulan Ramadan yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga, sebagian orang justru menghabiskannya di ruang terapi. Menjalani siklus pengobatan, menunggu hasil pemeriksaan, dan berhadapan dengan rasa lelah yang tak selalu terlihat.
Di sanalah Jihan Nurlela datang, bukan sekadar membawa bingkisan, tetapi mencoba menghadirkan sesuatu yang lebih sederhana, perhatian.
Ia menyapa satu per satu pasien kanker yang tengah menjalani pengobatan. Tidak ada pidato panjang, hanya percakapan ringan, tatapan hangat, dan kalimat-kalimat yang mencoba menguatkan. Di hadapannya, para pasien bukan angka statistik kesehatan, melainkan individu yang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Kegiatan bertajuk Sejuta Doa dan Harapan yang digelar bersama Yayasan Kanker Indonesia Cabang Koordinator Lampung itu menjadi ruang kecil untuk berbagi. Sembako dibagikan, tetapi yang lebih terasa adalah upaya menjaga semangat agar tidak runtuh.
Di tengah percakapan, ada satu pesan berulang dari Jihan. ” Jangan berhenti berharap.”
Bagi para pasien, harapan bukan sesuatu yang abstrak. Pesan itu hadir dalam bentuk sederhana, hasil pemeriksaan yang membaik, rasa sakit yang berkurang, atau sekadar kemampuan menjalani hari tanpa keluhan berat. Dan di ruang-ruang seperti ini, harapan sering kali menjadi obat yang tidak tertulis dalam resep dokter.
Jihan mengajak para pasien untuk tetap menggenggam keyakinan. Bahwa di balik proses panjang pengobatan, selalu ada kemungkinan untuk pulih. Bahwa doa dan ikhtiar berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.
Namun yang tak kalah penting, kehadiran negara juga diuji di tempat seperti ini.
Melalui Yayasan Kanker Indonesia, upaya pendampingan tidak hanya berhenti pada bantuan sesaat. Ada komitmen untuk membuka akses konsultasi, menghadirkan tenaga medis, hingga menjadi penghubung bagi pasien yang membutuhkan informasi lebih dalam tentang penyakitnya.
Letak sekretariat yang berada di lingkungan rumah sakit memberi makna tersendiri, bahwa pendampingan tidak jauh, tidak rumit, dan bisa dijangkau oleh mereka yang sedang berjuang.
Di sisi lain, RSUD Abdul Moeloek menjadi representasi dari tanggung jawab yang lebih besar untukĀ memastikan layanan kesehatan tidak hanya tersedia, tetapi juga layak, manusiawi, dan terus membaik.
Di ruang radioterapi, waktu berjalan berbeda. Hari-hari terasa lebih panjang, dan harapan sering diuji berkali-kali. Namun pagi itu menunjukkan satu hal, bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada upaya untuk tidak membiarkan siapa pun merasa sendirian.
Di sanalah empati Jihan tampak terang dan jelas, meskiĀ hanya sebentar, untuk menguatkan mereka yang sedang berjuang lebih keras dari yang terlihat.(iwa)
