REFLEKSI NOMICS.ID: Lebaran Berlalu, Nilai Ramadan Tidak Boleh Usai

Lebaran selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia menghadirkan kebahagiaan. Meja yang penuh, rumah yang hangat, dan hati yang kembali saling mendekat. Namun di sisi lain juga menyisakan ruang sunyi setelahnya, ketika keramaian usai, ketika dompet mulai menipis, dan ketika realitas kembali mengetuk.

Ramadan telah melatih kita untuk hidup dengan ritme yang berbeda. Kita belajar menahan, bukan sekadar lapar dan dahaga, tetapi juga keinginan. Kita dilatih untuk memberi tanpa banyak bertanya, dan bersyukur tanpa syarat. Nilai-nilai itu tumbuh perlahan, mengendap dalam kebiasaan, dan membentuk cara kita memandang hidup, setidaknya selama sebulan.

Namun pertanyaannya, ke mana semua itu setelah Lebaran?

Realitas menunjukkan, tidak sedikit yang kembali pada pola lama. Konsumsi meningkat tajam menjelang hari raya, lalu disusul fase “penyesalan ekonomi” setelahnya. Pengeluaran yang tak terkontrol, utang yang mulai terasa, hingga tekanan kebutuhan yang datang bersamaan. Di sinilah paradoks itu muncul, ketika Ramadan mengajarkan pengendalian, tetapi Lebaran justru menjadi ruang pelampiasan.

Padahal, nilai Ramadan tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti di hari kemenangan.

Ketulusan bukan hanya tentang memberi zakat, tetapi tentang kejujuran dalam mengelola rezeki. Rasa syukur bukan hanya tentang menerima, tetapi tentang merasa cukup, bahkan ketika pilihan untuk berlebih terbuka lebar. Dan pengendalian diri bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menahan dorongan konsumsi yang tidak perlu.

Dalam perspektif Nomics.ID, ini bukan sekadar isu spiritual, melainkan juga persoalan ekonomi keseharian. Ketika masyarakat mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, antara konsumsi dan perencanaan, maka stabilitas ekonomi justru terbentuk dari level paling dasar, yaitu rumah tangga.

Lebaran seharusnya bukan titik akhir, melainkan titik uji.

Uji apakah kita mampu membawa nilai ke dalam keputusan. Uji apakah kita tetap bijak saat euforia mereda. Uji apakah kita masih bisa merasa cukup di tengah godaan untuk selalu merasa kurang.

Karena ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi tentang sikap. Dan Ramadan, sesungguhnya, telah memberi kita bekal itu.

Kini, tinggal satu hal, apakah kita menjaganya, atau membiarkannya ikut berlalu bersama gema takbir yang kian menjauh.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *