Jutaan orang melintas di Lampung setiap musim mudik. Jalanan padat, rest area penuh, transaksi terjadi di mana-mana. Dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, lebih dari Rp1 triliun uang berputar hanya dalam hitungan hari. Pertanyaannya, jika uang sebesar itu lewat, kenapa Lampung tidak terasa kaya?
Jawabannya tidak nyaman. Karena uang itu memang tidak benar-benar untuk Lampung. Realitasnya uang dibelanjakan di sini, tapi dikantongi oleh sistem di luar sini.
Setiap liter bahan bakar yang dibeli, setiap makanan yang dipesan, setiap transaksi di rest area, semuanya tampak terjadi di Lampung. Namun nilai ekonominya tidak berhenti di sana.
Transaksi langsung terhubung ke jaringan yang lebih besar, ke distribusi energi, ritel nasional, hingga logistik. Keuntungan mengalir ke pusat, mengikuti struktur kepemilikan yang tidak berada di Lampung. Transaksi terjadi di sini. Keuntungan diselesaikan di tempat lain.
Tengok saja di titik paling ramai, di rest area. Jutaan orang berhenti. Tapi yang mereka temui bukan Lampung. Yang hadir di lokasi itu adalah wajah ekonomi yang seragam. Ramai merek nasional, produk standar yang juga ada di kota lain. Tidak ada ruang dominan bagi produk lokal.
Rest area berubah menjadi mesin penarik uang, tempat daya beli pemudik dikumpulkan, lalu dialirkan keluar daerah. Yang tersisa di Lampung hanyalah aktivitasnya, bukan nilai utamanya.
Lalu siapa yang menikmati?
Bukan pedagang kecil di pinggir jalan. Bukan pelaku UMKM yang hanya kebagian transaksi kecil dengan margin tipis. Yang menikmati adalah mereka yang menguasai sistem, jaringan energi, ritel skala nasional, distribusi dan logistik besar.
Nah, persoalannya menjadi jelas. Jelas bukan sekadar soal Lampung yang belum siap. Ini soal posisi dalam rantai nilai. Lampung berada di jalur, tapi tidak berada di pusat kendali. Lampung hanya menjadi ruang transaksi, tanpa menjadi pemilik hasil transaksi.
Ironinya, semakin besar arus mudik, semakin besar pula nilai yang keluar. Keramaian tidak lagi identik dengan keuntungan, justru bisa menjadi indikator seberapa besar nilai yang sedang diambil.
Keaddan ni bukan tak bisa diubah. Sangat bisa. Bukan dengan memaksa orang berhenti.
Melainkan dengan memastikan setiap transaksi yang terjadi memiliki jejak di daerah.
Caranya, memberi ruang lebih besar bagi pelaku lokal. Mengubah rest area menjadi etalase ekonomi daerah dan menghubungkan produk Lampung ke arus utama konsumsi.
Bukan menciptakan arus baru, tapi mengambil kembali sebagian nilai dari arus yang sudah ada.(iwa)
