Di Antara Nisan dan Ingatan: Lampung Menjaga Arah dari Para Pendahulu

Pagi di Taman Makam Pahlawan itu berjalan lebih pelan dari biasanya. Tidak ada gegap gempita, tidak ada tepuk tangan. Hanya langkah-langkah tertib, kepala yang menunduk, dan ingatan yang dipanggil kembali.

Di tengah barisan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan memimpin upacara ziarah makam dan tabur bunga, Selasa (31/3/2026). Sebuah rangkaian dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Lampung, namun maknanya jauh melampaui seremoni tahunan.

Sebab di tempat itu, pembangunan tidak dibicarakan lewat angka, melainkan lewat jejak.

Upacara dimulai dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan. Hening cipta kemudian menyelimuti seluruh peserta, Forkopimda, TNI, Polri, hingga ASN, seakan memberi ruang bagi waktu untuk berhenti sejenak.

Di antara keheningan itu, ada satu kesadaran yang perlahan muncul, bahwa Lampung hari ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibangun dari pengorbanan. Dari mereka yang tidak sempat menyaksikan hasilnya.

Prosesi peletakan karangan bunga di tugu makam pahlawan menjadi titik paling sunyi sekaligus paling dalam. Marindo melangkah perlahan, meletakkan karangan bunga sebagai simbol penghormatan, bukan sekadar formalitas, tetapi ungkapan terima kasih yang tak pernah benar-benar cukup.

Lalu, satu per satu bunga ditaburkan di atas pusara.

Sederhana, namun sarat makna.

Di situlah, ziarah menemukan esensinya, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Mengingatkan bahwa setiap jalan yang kini dilalui, setiap bangunan yang berdiri, setiap capaian pembangunan. Semuanya memiliki akar yang panjang.

Kegiatan ini bukan sekadar mengenang perjuangan dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menghormati mereka yang berperan dalam pembentukan Provinsi Lampung.

Dan mungkin, di tengah arus pembangunan yang terus bergerak cepat, momen seperti ini menjadi penyeimbang agar arah tidak kehilangan makna.

Bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan, tetapi juga dari ingatan yang tetap dijaga.

Peringatan HUT ke-62 Lampung pun menemukan makna yang lebih utuh di tempat ini. Bukan hanya tentang merayakan usia, tetapi memastikan bahwa semangat para pendahulu tetap hidup dalam kebijakan, dalam pelayanan, dan dalam cara memandang masa depan.

Di antara nisan-nisan itu, Lampung seakan diingatkan, bahwa membangun bukan hanya soal melangkah maju, tetapi juga tentang tidak pernah lupa dari mana ia bermula.(IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *