Di Usia ke-62, Lampung Menyusun Arah: Dari Lumbung Pangan Menuju Kemandirian Ekonomi

Di Lapangan Korpri, pagi itu tidak hanya tentang barisan upacara dan protokol yang rapi. Di usia ke-62, Provinsi Lampung sedang membaca dirinya sendiri, menimbang capaian, sekaligus merumuskan arah yang lebih tegas ke depan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah titik jeda untuk memastikan: ke mana Lampung akan melangkah.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, saya mengucapkan selamat dan Dirgahayu yang ke-62 kepada seluruh masyarakat Lampung,” ujarnya, sebelum menggeser suasana dari perayaan menuju refleksi.

Sebab di balik peringatan, ada pesan yang lebih mendasar, bahwa Lampung tidak cukup hanya tumbuh. Ia harus maju, berdaya saing, dan mandiri secara ekonomi.

“Lampung harus maju, berdaya saing, dan berdaulat secara ekonomi,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan tanpa pijakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Lampung menunjukkan tren yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat 5,28 persen melampaui rata-rata nasional. Angka kemiskinan turun menjadi 9,66 persen, untuk pertama kalinya menembus satu digit. Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 73,98, masuk kategori tinggi.

Di sisi lain, inflasi Lampung menjadi yang terendah di Sumatera dan kedua terendah secara nasional. Sebuah indikator bahwa stabilitas ekonomi daerah cukup terjaga, bahkan di tengah tekanan global.

Namun, bagi Jihan, capaian itu bukan garis akhir. Ia adalah hasil dari fondasi panjang yang dibangun para pendahulu, sebuah warisan yang harus dilanjutkan, bukan sekadar dirayakan.

“Hari ini Lampung tumbuh sebagai lumbung pangan nasional dan penggerak ekonomi di Sumatera dengan konektivitas antar wilayah yang semakin kuat,” ujarnya.

Di titik ini, Lampung seperti berada di persimpangan: tetap menjadi daerah penopang, atau naik kelas menjadi pemain utama dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Pemerintah provinsi mulai mendorong arah baru itu melalui penguatan ekonomi desa. Lewat program Desaku Maju, pembangunan tidak lagi hanya bertumpu pada kota, tetapi bergerak dari desa, mendorong produktivitas, hilirisasi, hingga penguatan kelembagaan ekonomi lokal.

Pada saat yang sama, infrastruktur terus diperbaiki. Tingkat kemantapan jalan mencapai 79,79 persen pada 2025, memperkuat konektivitas yang selama ini menjadi salah satu keunggulan Lampung.

Transformasi digital pun mulai mengambil peran. Aplikasi Lampung-In telah digunakan lebih dari 30 ribu pengguna, menjadi jembatan baru antara pemerintah dan masyarakat, dari layanan hingga aspirasi.

Di sektor tata kelola, capaian juga menguat. Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) meningkat menjadi predikat BB, sementara kualitas pelayanan publik menempatkan Lampung sebagai yang tertinggi secara nasional, satu-satunya dari 38 provinsi yang mencapai posisi tersebut.

Namun, optimisme itu tidak menutup kenyataan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks.

Ruang fiskal yang terbatas, tekanan ekonomi global, hingga ketidakpastian investasi menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Artinya, pendekatan lama tidak lagi cukup.

Lampung dituntut lebih presisi menentukan prioritas, mengelola anggaran secara efisien, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor, dari pusat hingga daerah, termasuk swasta.

Di situlah agenda strategis mulai dirumuskan: percepatan hilirisasi, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta pembangunan birokrasi yang adaptif.

Tema Hari Jadi ke-62, “Membangun Bersama Lampungku Maju”, bukan sekadar slogan. Ia menjadi ajakan untuk menyatukan langkah bahwa pembangunan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Di ujung upacara, satu pesan kembali ditegaskan: pentingnya mengingat jasa para pendahulu. Bukan untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap capaian hari ini berdiri di atas kerja panjang generasi sebelumnya.

Dan mungkin, di situlah makna usia ke-62 Lampung, bukan hanya tentang seberapa jauh telah berjalan, tetapi seberapa siap melangkah lebih jauh menuju kemandirian ekonomi yang tidak lagi bergantung, melainkan mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *