BANDAR LAMPUNG – Inflasi Lampung pada Maret 2026 tercatat hanya 1,16 persen secara tahunan (year on year). Angka ini sekilas terlihat menenangkan. Harga-harga relatif terkendali, tekanan inflasi tidak tinggi. Namun inflasi yang terlalu rendah, terutama bila dibandingkan dengan Maret 2025 yang mencapai 1,58 persen, bukanlah mencerminkan ekonomi yang kuat, melainkan memberi sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang melemah dan aktivitas sektor riil kehilangan tenaga dorong.
Pergerakan bulanan mempertegas arah tersebut. Inflasi month to month hanya 0,19 persen, jauh di bawah 1,96 persen pada periode yang sama tahun lalu. Artinya, tidak ada lonjakan permintaan yang cukup kuat untuk mendorong harga naik secara alami. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah, tertahan. Masyarakat tetap berbelanja, tetapi dengan intensitas yang lebih hati-hati.
Kondisi ini tercermin dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang hanya mengalami inflasi 1,12 persen dengan andil 0,38 persen. Bahkan, sejumlah komoditas pangan utama justru mengalami penurunan harga, seperti cabai merah, bawang putih, bawang merah, hingga sayuran seperti bayam dan kangkung.
Penurunan ini tidak bisa dibaca semata sebagai keberhasilan pasokan, tetapi juga sebagai indikasi bahwa permintaan tidak cukup kuat untuk menjaga harga tetap stabil. Dalam banyak kasus, ketika daya beli melemah, pasar merespons dengan koreksi harga.
Sementara itu, sektor riil memang masih bergerak, tetapi tidak menunjukkan ekspansi yang berarti. Inflasi pada sektor transportasi hanya 1,28 persen, restoran 1,35 persen, dan perlengkapan rumah tangga bahkan di bawah 1 persen. Ini adalah sektor-sektor yang merefleksikan aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika pertumbuhannya rendah, itu menandakan mobilitas masyarakat tidak meningkat signifikan, konsumsi jasa cenderung tertahan, dan belanja rumah tangga belum pulih sepenuhnya. Ekonomi tetap berjalan, tetapi dalam ritme yang lambat.
Di sisi lain, tekanan justru datang dari biaya hidup. Ini bagian paling senstitif. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga melonjak tinggi hingga 8,78 persen secara tahunan, dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi sebesar 1,03 persen.
Tarif listrik turut menjadi pendorong utama, diikuti oleh kenaikan biaya sewa dan kontrak rumah serta material bangunan. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga melonjak 9,55 persen, di mana emas perhiasan sebagai penyumbang dominan. Struktur ini menunjukkan bahwa inflasi Lampung saat ini lebih didorong oleh tekanan biaya (cost-push inflation), bukan oleh kuatnya permintaan.
Kombinasi ini menciptakan tekanan ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, daya beli melemah karena pendapatan tidak meningkat signifikan. Di sisi lain, biaya hidup tetap naik, terutama pada komponen-komponen yang tidak mudah dihindari. Situasi seperti ini cenderung menekan konsumsi lebih dalam, karena rumah tangga akan memprioritaskan pengeluaran pokok dan menunda belanja lainnya.
Dalam konteks yang sama, muncul anomali dari kelompok pendidikan yang mengalami deflasi sangat dalam hingga minus 17,97 persen dengan andil -1,19 persen terhadap inflasi. Penurunan ini terlalu besar untuk disebut sebagai dinamika pasar biasa. Kemungkinan besar, faktor kebijakan atau perubahan skema pembiayaan pendidikan menjadi penyebab utama. Dampaknya, inflasi Lampung secara keseluruhan terlihat lebih rendah dari kondisi riil di lapangan, karena tertahan oleh satu komponen yang bersifat non-pasar.
Jika dilihat antar wilayah, seluruh daerah mengalami inflasi, tetapi dengan intensitas berbeda. Kota Metro mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,62 persen, diikuti Mesuji 1,50 persen, Bandar Lampung 1,13 persen, dan Lampung Timur terendah 1,05 persen. Pola ini menunjukkan bahwa wilayah dengan aktivitas ekonomi lebih dinamis cenderung memiliki inflasi lebih tinggi karena perputaran uang yang lebih aktif. Sebaliknya, daerah dengan inflasi rendah justru mencerminkan aktivitas ekonomi yang lebih tertahan.
Keseluruhan data ini mengarah pada satu kesimpulan yang tidak bisa diabaikan, yakni ekonomi Lampung sedang melambat dalam diam. Tidak ada kontraksi tajam, tetapi juga tidak ada akselerasi yang cukup untuk mendorong pertumbuhan. Inflasi yang rendah bukan menjadi tanda stabilitas yang kuat, melainkan cerminan dari permintaan yang melemah, sektor riil yang berjalan tanpa dorongan, serta tekanan biaya hidup yang tetap tinggi.
Lampung membutuhkan dorongan baru
Dalam kondisi seperti ini, Lampung membutuhkan dorongan baru agar tidak terjebak dalam perlambatan berkepanjangan. Percepatan belanja pemerintah menjadi kunci untuk menggerakkan likuiditas di awal tahun. Stimulus konsumsi juga diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama pada kelompok menengah ke bawah. Di saat yang sama, stabilisasi harga pada sektor energi dan kebutuhan dasar menjadi penting agar tekanan biaya tidak semakin membebani rumah tangga.
Dorongan baru yang dibutuhkan Lampung harus langsung menyasar akar masalah. Pertama, percepatan belanja APBD di awal tahun agar uang cepat beredar dan menggerakkan ekonomi lokal.
Kedua, stimulus daya beli yang terarah seperti subsidi pangan dan operasi pasar untuk menjaga konsumsi tetap hidup. Ketiga, stabilisasi biaya hidup, terutama listrik dan perumahan, agar beban tetap rumah tangga tidak menekan belanja.
Keempat, dorongan ke sektor riil dan UMKM melalui belanja produk lokal, kemudahan distribusi, dan akses pembiayaan ringan.
Kelima, penguatan sektor pangan agar harga seimbang antara produsen dan konsumen. Terakhir, menghidupkan konsumsi jasa lewat event dan aktivitas ekonomi yang mendorong mobilitas.
Intinya, fokusnya bukan sekadar menjaga inflasi rendah, tetapi mengembalikan perputaran uang dan permintaan agar ekonomi kembali bergerak kuat.(iwa)
