BANDARLAMPUNG – Lampung mencatat surplus perdagangan fantastis sebesar US$800,8 juta pada awal 2026. Namun di balik angka yang tampak kuat itu, tersimpan sinyal yang jauh lebih mengkhawatirkan. Ekspor mulai melemah, sementara impor anjlok tajam. Ini mengindikasikan bahwa mesin ekonomi sedang melambat, bukan menguat.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Lampung pada Februari 2026 sebesar US$492,31 juta, turun 4,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif Januari–Februari 2026, ekspor juga terkoreksi tipis 0,3 persen menjadi US$992,45 juta.
Penurunan ini tampak kecil di permukaan, tetapi jika dibedah lebih dalam, struktur ekspor Lampung sedang mengalami tekanan serius, terutama dari sektor yang selama ini menjadi tulang punggung daerah.
Sektor pertanian, misalnya, mengalami kontraksi paling dalam, anjlok 36,34 persen. Ini bukan sekadar angka, melainkan alarm keras bahwa komoditas utama seperti kopi, teh, dan rempah-rempah jatuh hingga 37,44 persen. Artinya, basis ekonomi tradisional Lampung sedang kehilangan daya dorongnya di pasar global.
Sebaliknya, sektor industri pengolahan justru tumbuh 16,68 persen dan kini mendominasi ekspor dengan kontribusi 74,78 persen. Sekilas ini terlihat positif, tetapi juga mengandung paradoks yang menjelaskan bahwa transformasi struktur ekonomi terjadi bukan karena pertanian naik kelas, melainkan karena sektor primer runtuh lebih cepat.
Dominasi ekspor juga semakin terkonsentrasi. Hampir setengah ekspor Lampung bertumpu pada lemak dan minyak hewan/nabati (48,64 persen). Ketergantungan tinggi pada satu komoditas membuat Lampung sangat rentan terhadap fluktuasi harga global.
Di sisi lain, pasar ekspor juga menunjukkan gejala ketimpangan. Tiongkok memang tumbuh signifikan, tetapi ekspor ke Amerika Serikat turun 19,48 persen dan India anjlok 29,17 persen. Ini menunjukkan risiko ketergantungan pasar yang mulai tidak seimbang.
Namun cerita paling mencolok justru datang dari sisi impor.
Nilai impor Lampung pada Januari–Februari 2026 hanya US$191,65 juta, jatuh drastis 63,35 persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan pada Februari saja, impor anjlok 63,69 persen secara tahunan.
Sekilas, penurunan impor sering dianggap kabar baik. Tapi dalam konteks ini, justru sebaliknya.
Penurunan terbesar terjadi pada impor migas yang merosot lebih dari 90 persen. Namun yang lebih penting, impor bahan baku dan penolong yang menjadi indikator aktivitas industri turun tajam 65,8 persen.
Ini mengindikasikan aktivitas produksi sedang melemah.
Ketika industri mengurangi impor bahan baku, itu biasanya berarti produksi melambat, permintaan menurun, atau pelaku usaha mulai menahan ekspansi.
Memang ada kenaikan pada impor barang modal sebesar 123,02 persen. Namun kontribusinya masih kecil (hanya 7,06 persen), sehingga belum cukup kuat untuk mengimbangi penurunan besar pada bahan baku.
Kombinasi ekspor yang melemah dan impor yang jatuh dalam ini menghasilkan surplus perdagangan besar. Pada Februari 2026 saja, surplus mencapai US$389,33 juta.
Tetapi surplus ini bukan hasil ekspansi ekonomi, melainkan hasil dari kontraksi impor.
Dengan kata lain, Lampung tidak sedang “menjual lebih banyak ke dunia”, tetapi justru “membeli jauh lebih sedikit”.
Ini adalah pola klasik perlambatan ekonomi daerah. Daya produksi melemah, permintaan domestik turun, dan aktivitas industri menahan diri.
Jika ditarik ke konteks yang lebih luas, dan dikaitkan dengan tren yang sebelumnya juga terlihat pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus menurun sejak Desember 2025, maka gambarnya semakin jelas.
Lampung sedang menghadapi tekanan berlapis. Pertanian melemah, daya beli tertekan, dan kini sektor eksternal mulai menunjukkan gejala perlambatan.
Kesimpulannya tegas. Surplus perdagangan Lampung saat ini bukan tanda kekuatan ekonomi, melainkan sinyal dini bahwa mesin pertumbuhan sedang kehilangan tenaga.
Jika tren ini berlanjut hingga semester pertama 2026, maka risiko perlambatan ekonomi daerah bukan lagi potensi, melainkan kenyataan.(iwa)
