Menjemput Masa Depan dari Negeri Orang

Di sebuah ruang rapat di Kantor Gubernur Lampung, masa depan ribuan anak muda sedang dibicarakan oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela bersama sejumlah pihak terkait dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (31/3/2026).  Bukan tentang pekerjaan di dalam negeri, melainkan peluang hidup di negeri orang.

Program Kelas Migran Vokasi yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung membuka jalan itu. Sebanyak 7.855 siswa SMA dan SMK ditargetkan ikut, dipandu puluhan pengajar, disiapkan untuk satu tujuan, bekerja di luar negeri, terutama Jepang.

Di atas kertas, semuanya tampak menjanjikan. Ada 475 lowongan kerja yang menunggu. Di restoran, hotel, panti lansia, hingga sektor agrikultur dan logistik. Dunia kerja global kini tidak lagi terlalu mempersoalkan gender, tetapi keterampilan. Ini kabar baik bagi generasi muda Lampung yang selama ini kerap terjebak di antara ijazah dan realitas.

Namun cerita ini bukan sekadar tentang peluang. Ini juga tentang pilihan yang tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari keterbatasan.

Setiap tahun, ribuan lulusan SMA dan SMK di Lampung masuk ke pasar kerja dengan harapan sederhana, mendapat pekerjaan yang layak. Tetapi yang mereka temui sering kali berbeda. Lapangan kerja terbatas, upah rendah, dan sebagian besar peluang berada di sektor informal yang tidak menjanjikan kepastian.

Di titik inilah, bekerja ke luar negeri menjadi alternatif yang semakin rasional.

Program Kelas Migran Vokasi mencoba menjawab itu dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Para peserta tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga keterampilan teknis yang benar-benar dibutuhkan industri. Mereka diseleksi berdasarkan minat dan potensi, dilatih, lalu diarahkan ke jalur magang atau langsung bekerja.

Ada keseriusan yang terasa. Pemerintah ingin program ini benar-benar berjalan, bukan sekadar wacana.

Tetapi di balik semua itu, ada pertanyaan yang menggantung, apakah ini jalan menuju kemajuan, atau sekadar cara lain untuk bertahan?

Bekerja di luar negeri selalu membawa dua sisi. Di satu sisi, ada kesempatan gaji yang lebih tinggi, pengalaman internasional, dan harapan memperbaiki hidup keluarga di kampung halaman. Di sisi lain, ada jarak dari keluarga, dari akar sosial, bahkan dari identitas yang perlahan berubah.

Lampung, seperti banyak daerah lain di Indonesia, bukan baru pertama kali mengirim tenaga kerjanya ke luar negeri. Namun yang berbeda kali ini adalah cara pandangnya. Pemerintah tidak lagi sekadar melepas, tetapi mencoba menyiapkan. Memanusiakan!

Meski begitu, persiapan teknis saja tidak cukup.

Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan bahwa perjalanan ini tidak berhenti sebagai siklus, berangkat, bekerja, pulang, lalu kembali ke kondisi semula. Tanpa strategi yang lebih besar, pekerja migran hanya akan menjadi penopang ekonomi jangka pendek. Mengirim uang, tetapi tidak membawa perubahan struktural.

Padahal, jika dikelola dengan tepat, pengalaman mereka bisa menjadi modal besar. Mereka bisa kembali dengan keterampilan, etos kerja, dan perspektif baru yang jika dihubungkan dengan peluang di daerah, bisa menggerakkan ekonomi lokal.

Program Kelas Migran Vokasi adalah cermin dari dua hal sekaligus: harapan dan keterbatasan.

Program ini harapan karena membuka jalan bagi anak-anak muda untuk melihat dunia lebih luas. Tetapi ia juga menjadi pengingat bahwa rumah mereka sendiri belum sepenuhnya mampu memberi ruang.

Mungkin, tidak ada yang salah dengan pergi jauh untuk mencari peluang. Yang menjadi penting adalah memastikan bahwa suatu hari nanti, mereka punya alasan untuk kembali, bukan karena terpaksa, tetapi karena di tanah sendiri, masa depan juga tersedia.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *