Tantangan Pemerataan Infrastruktur di Balik 79,79 Persen Jalan Mantap Lampung

Bagian 1 dari 4 seri Infrastruktur Lampung

Tulisan ini merupakan bagian dari seri analisis infrastruktur Lampung yang mengulas kondisi, persepsi, hingga arah kebijakan pembangunan jalan di daerah.

@Iwa Perkasa

Ada satu angka yang terlihat menenangkan di Lampung, 79,79 persen.

Itulah tingkat kemantapan jalan provinsi pada 2025. Sekilas, angka ini seperti kabar baik. Seolah-olah sebagian besar jalan sudah beres, sudah nyaman dilalui, dan pembangunan berjalan sesuai arah.

Tapi seperti banyak angka lain, angka persentase itu tidak bercerita sendirian.

Begini ceritanya.

Dari total jalan provinsi, masih ada sekitar 20 persen yang belum mantap. Dan yang perlu digarisbawahi, sebagian besar bukan sekadar rusak ringan, ada juga berstatus rusak berat.

Seluruhnya, tidak bisa diatasi dengan tambal sulam, tapi semaksimalkan mungkin membangun ulang.

Seumpama rumah yang retak di sana-sini. Menambalnya mungkin cukup untuk sementara. Tapi jika fondasinya yang bermasalah, perbaikan kecil tidak akan banyak membantu.

Begitu juga dengan jalan.

Banyak orang bertanya, jalan diperbaiki setiap tahun, tapi kenapa masih terasa banyak yang rusak?

Jawabannya ada pada “jenis masalah”-nya.

Jalan rusak ringan bisa cepat diperbaiki. Tapi jalan rusak berat seperti lubang besar di ember ditambal hari ini, bisa bocor lagi besok kalau tidak diperbaiki dari dasarnya.

Dan semakin banyak jalan yang masuk kategori rusak berat, semakin besar biaya dan waktu yang dibutuhkan.

Sebab, pembangunan tidak hanya soal seberapa banyak yang dikerjakan, tapi seberapa dalam masalahnya diselesaikan.

Masalah lain sering luput dari perhatian adalah jalan itu bukan berdiri sendiri.

Jalan adalah jaringan, terhubung satu sama lain.

Jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, sampai jalan desa, semuanya seperti rangkaian. Kalau satu bagian lemah, seluruh perjalanan ikut terasa berat.

Di Lampung, gambarnya cukup jelas. Jalan nasional sudah sangat baik, jalan provinsi cukup baik, tapi jalan kabupaten masih tertinggal

Akibatnya, perjalanan sering terasa “putus-putus”. Mulus di satu titik, rusak di titik berikutnya.

2026 Fase Sulit, Masalahnya Bukan Lagi Sekadar Membangun

Tahun 2026 membawa dinamika baru. Pembangunan jalan terlihat semakin masif. Di banyak tempat, proyek berjalan. Namun target kenaikan kemantapan hanya sekitar 4 persen. Sekilas terlihat kecil. Tapi sebenarnya, ini seperti mendaki bukit yang semakin curam.

Naik dari 50 ke 60 persen itu mudah. Tapi dari hampir 80 ke 84 persen jauh lebih sulit.

Karena yang tersisa adalah bagian paling berat, jalan-jalan rusaknya sudah dalam, pasti butuh biaya besar untuk dipulihkan.

Sejak tahun-tahun lalu, jalan sudah banyak dibangun. Anggaran sudah digelontorkan. Maka  pendekatan pun harus bergeser ke kualitas yang lebih tahan lama.

Tak cukup itu, ada tantangan atau paradigma  yang  juga harus berubah, yakni bukan lagi soal berapa kilometer dibangun, melainkan, apakah yang dibangun benar-benar menyelesaikan masalah. Ini bagian yang paling rumit.

Sebab, 79,79 persen bukan garis akhir, tapi penanda bahwa tantangan berikutnya jauh lebih sulit. Karena membangun jalan itu penting, tapi memastikan seluruh jaringan jalan bekerja dengan baik, itulah yang menentukan apakah pembangunan benar-benar terasa.(*****)

Baca Seri 2: Jalan Rusak di Lampung, Antara Persepsi Publik dan Kewenangan Daerah

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *