Masif Dibangun, Lambat Terasa: Memahami Arah Infrastruktur Lampung 2026

Bagian 3 dari 4 seri Infrastruktur Lampung

Pada bagian ini, analisis diarahkan pada fenomena pembangunan jalan yang terlihat masif, namun hanya menghasilkan kenaikan kemantapan yang terbatas.

@Iwa Perkasa

Kalau kita berkeliling di Lampung tahun ini, satu hal terasa dan tampak jelas adalah  pembangunan jalan ada di mana-mana. Alat berat bekerja, ruas dibongkar, beton dicor. Di banyak titik, jalan yang dulu rusak mulai disentuh, bahkan sebagian masif dilakukan sejak 2025 lalu. Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang juga tidak kalah sering terdengar, “Kalau pembangunan begitu masif, kenapa kenaikan kemantapan hanya sekitar 4 persen?”

Begini jawabannya.

Dari sekitar 79,79 persen di 2025, target naik ke kisaran 84 persen di 2026. Secara angka, ini terlihat biasa saja. Bahkan mungkin terasa “kurang ambisius”. Tapi kalau dilihat lebih dalam, situasinya tidak sesederhana itu.

Ibarat membersihkan halaman, yang mudah sudah disapu lebih dulu. Yang tersisa sekarang adalah bagian yang paling berat. Tanah yang mengeras, akar yang menancap, dan sudut-sudut yang sulit dijangkau.

Begitu juga dengan jalan.

Sekitar 20 persen jalan yang belum mantap saat ini sebagian besar adalah rusak berat. Artinya, harus dibongkar, diperbaiki dari dasar, bahkan dibangun ulang.

Ini bukan pekerjaan cepat. Bukan juga murah.

Satu ruas bisa menyerap anggaran besar, tapi dampaknya ke persentase kenaikan tidak langsung terlihat signifikan.

Lalu, untuk 2026 ada perubahan pendekatan. Kalau sebelumnya banyak perbaikan bersifat cepat, menutup lubang, melapisi ulang, sekarang mulai bergeser ke konstruksi yang lebih kuat, seperti beton.

Ibaratnya, bukan lagi sekadar memperbaiki jalan agar bisa dilewati hari ini, tapi agar tetap kuat bertahun-tahun ke depan.

Konsekuensinya jelas, biaya per kilometer lebih mahal, panjang jalan yang bisa ditangani jadi lebih terbatas. Tapi hasilnya diharapkan lebih tahan lama.

Ada satu fase dalam pembangunan yang sering tidak disadari, yaitu semakin tinggi capaian, semakin sulit meningkatkannya. Naik dari 50 ke 60 persen terasa cepat. Tapi dari hampir 80 ke 84 persen, setiap kenaikan butuh usaha berlipat. Karena yang tersisa bukan lagi masalah ringan, melainkan inti persoalan yang selama ini tertunda.

Di sinilah muncul jarak antara realitas dan persepsi. Masyarakat melihat proyek di banyak tempat, tapi perubahan terasa lambat. Itu bukan karena pembangunan tidak berjalan, tapi karena yang yang diperbaiki adalah titik-titik paling rusak, baru saja dilakukan, hasilnya tidak langsung merata, dan dampaknya butuh waktu untuk terasa luas

Seperti memperbaiki fondasi rumah, tidak terlihat dari luar, tapi menentukan kekuatan seluruh bangunan.

Tantangan ke depan bukan lagi seberapa banyak jalan yang dibangun, tapi seberapa tepat yang diperbaiki. Karena satu ruas strategis yang diperbaiki dengan benar bisa memperlancar distribusi, menurunkan biaya logistik, membuka akses ekonomi. Ketiganya, lebih besar dampaknya dibanding banyak perbaikan kecil yang tidak menyelesaikan masalah.

Pembangunan yang masif belum tentu langsung terasa, karena yang sedang dikerjakan adalah bagian paling sulit yang selama ini tertinggal. Kenaikan 4 persen mungkin terlihat kecil, tetapi bisa menjadi langkah besar jika yang diperbaiki adalah fondasi yang selama ini rapuh.(*****)

Baca seri sebelumnya:

Seri 1: https://nomics.id/2026/04/05/tantangan-pemerataan-infrastruktur-di-balik-7979-persen-jalan-mantap-lampung/

Seri 2: https://nomics.id/2026/04/06/jalan-rusak-di-lampung-antara-persepsi-publik-dan-kewenangan-daerah/

Tunggu seri ke 4: Dari Ketimpangan ke Konektivitas: Arah Baru Infrastruktur Lampung

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *