Sepuluh tahun lalu, seorang “dokter” datang membawa hasil pemeriksaan yang nyaris tanpa cela. Namanya Badan Pusat Statistik, dan hasil diagnosis itu dikenal sebagai Sensus Ekonomi 2016. Isi hasil diagnosis sederhana, tapi dalam, yaitu struktur ekonomi Lampung tidak kekurangan aktivitas, tapi kekurangan kekuatan.
@Iwa Perkasa
Ratusan ribu usaha tumbuh di provinsi ini. Hampir semuanya usaha mikro dan kecil. Mereka menjadi penopang kehidupan, menyerap tenaga kerja, menjaga denyut ekonomi tetap hidup. Namun di saat yang sama, mereka juga membatasi lompatan. Skala usaha kecil, produktivitas rendah, dan nilai tambah yang tipis membuat ekonomi bergerak, tapi tidak berlari.
Masalahnya sudah disampaikan sejak awal. Sejak hasil SE 2016 dilaporkan, bahkan sudah dibeberkan sejak SE di tahun-tahun sebelumnya, bahwa Lampung dipetakan telah bekerja keras, tapi tidak sepenuhnya menikmati hasilnya sendiri.
Komoditas keluar dalam bentuk mentah. Nilai tambah berpindah ke luar daerah. Industri pengolahan belum benar-benar berdiri sebagai tulang punggung. Yang tumbuh adalah aktivitas, bukan akselerasi.
Waktu berjalan. Program demi program dijalankan. Jalan dibangun, konektivitas diperbaiki, UMKM didorong, perdagangan dipermudah. Semua itu penting. Semua itu perlu. Tapi jika ditarik dalam satu garis besar, terapi yang diberikan lebih menyerupai perawatan rutin, bukan tindakan utama.
Hasilnya, ekonomi Lampung tidak jatuh. Tapi juga tidak melompat. Lampung “sukses” bertahan.
Kini, sepuluh tahun setelah diagnosis pertama, “dokter” yang sama akan datang kembali. Sensus Ekonomi 2026 dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Agustus. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan kesiapan penuh menyambutnya.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menegaskan komitmen tersebut. Pemerintah daerah siap bersinergi, mengoordinasikan organisasi perangkat daerah, menyediakan data pelaku usaha, dan memperluas sosialisasi agar sensus berjalan lancar.
Secara administratif, Lampung siap.
Namun pengalaman menunjukkan, persoalan tidak pernah berhenti pada kesiapan pelaksanaan. Lampung pernah berada di titik yang sama. Tahun 2016, data sudah berbicara, menjelaskan dengan gamblang di mana letak persoalan, yaitu dominasi usaha kecil, lemahnya nilai tambah, dan belum kuatnya sektor industri.
Sepuluh tahun kemudian, struktur itu belum benar-benar berubah. UMKM tetap mendominasi. Industri belum menjadi mesin utama. Pertumbuhan tetap ada, tapi berjalan dalam ritme yang sama. Tidak ada krisis. Tidak ada lonjakan. Seperti seseorang yang hidup dengan penyakit lama, cukup terkelola untuk bertahan, tapi tidak pernah benar-benar sembuh.
Namun di tengah itu, arah mulai bergeser.
Kini, Pemerintah Provinsi Lampung perlahan menunjukkan tanda-tanda bahwa diagnosa lama mulai didengar. Perbaikan konektivitas tidak lagi semata proyek fisik, tapi mulai diarahkan membuka akses ekonomi. Koordinasi lintas OPD diperkuat, menyadari bahwa persoalan ekonomi tidak bisa diselesaikan secara sektoral.
Narasi tentang investasi dan hilirisasi mulai muncul, meski belum masif. Pendekatan terhadap UMKM pun perlahan bergerak dari sekadar bantuan menjadi upaya penataan dan pembinaan.
Langkah-langkah itu, jujur, belum sepenuhnya belum optimal karena keterbatasan fiskal. Belum cukup untuk disebut transformasi. Tapi cukup memberi arah, bahwa kini Lampung tidak lagi sepenuhnya diam.
Di sini,. Nomics.Id perlu menyampaikan kritik yang jernih, bahwa pembangunan jalan tanpa industri hanya mempercepat arus keluar komoditas. Dukungan UMKM tanpa strategi naik kelas hanya memperbanyak usaha yang bertahan. Pertumbuhan tanpa nilai tambah hanya memperbesar angka, bukan memperkuat ekonomi.
Kritik yang jernih ini, sesungguhnya sudah dicatat dalam lembaran kerja pemerintahan sekarang. Bahkan, sudah digariskan dalam sejumlah program. Pinjaman Rp1 triliun menjadi daya dukungnya.
Lampung memiliki modal, basis pertanian yang kuat, posisi geografis strategis, punya Pelabuhan Panjang yang mendekatkannya ke pasar besar dalam negeri dan luar negeri. Lampung bukan daerah tanpa peluang. Justru sebaliknya, memiliki potensi untuk melompat itu nyata.
Yang dibutuhkan Lampung adalah perubahan fokus, dari menyebar bantuan menjadi membangun ekosistem, dari menjaga usaha kecil tetap hidup menjadi mendorong sebagian naik kelas,
dari menjual bahan mentah menjadi mengolahnya di dalam daerah.
Maka, Sensus Ekonomi 2026 seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan statistik, tapi sebagai momentum koreksi arah. Lampung akan menjadi lebih baik jika sungguh-sungguh menjalankan hasil “diagnosis dokternya”.
Karena jika nanti kembali menunjukkan pola yang sama, maka masalahnya bukan lagi pada kurangnya data, melainkan pada keputusan yang terus ditunda.
Sepuluh tahun lalu, Lampung sudah tahu penyakitnya.
Tahun ini, sensus baru akan kembali mengonfirmasi.
Dokter akan datang lagi. Tapi apakah kali ini Lampung masih minum vitamin,
atau akhirnya berani menjalani operasi besar. (*****)
