Di Lampung, hilirisasi energi kerap dibayangkan sebagai lompatan besar menuju kemandirian BBM. Namun di balik ambisi itu, ada satu ironi yang sulit diabaikan. Daerah ini tidak kekurangan bahan baku, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi yang utuh.
@Iwa Perkasa
SINGKONG menjadi simbol paling jelas dari paradoks tersebut. Produksinya melimpah, petaninya tersebar luas, dan secara teknis sangat layak diolah menjadi bioetanol, bahan campuran bensin yang mulai didorong dalam transisi energi nasional. Dalam konteks ini, singkong bukan lagi sekadar komoditas pangan, melainkan energi. Ia adalah “minyak” baru yang tumbuh dari tanah Lampung.
Namun, seperti minyak yang belum menemukan kilangnya, potensi itu masih tertahan di hulu.
Produksi singkong yang besar belum diikuti oleh kapasitas industri bioetanol yang memadai. Pernah dilakukan tapi gagal. Karena serapan pasar masih terbatas, sementara kepastian pembelian belum benar-benar terjamin. Akibatnya, keunggulan yang seharusnya menjadi sumber keuntungan justru berubah menjadi sumber ketidakpastian. Harga berfluktuasi, petani menanggung risiko, dan nilai tambah tidak pernah benar-benar terkunci di dalam daerah.
Di sinilah akar persoalan hilirisasi Lampung. Kekuatan ada di ladang, tetapi lemah di pabrik.
Tebu sebenarnya menawarkan jalan yang lebih terintegrasi. Dari satu komoditas, dapat dihasilkan gula, bioetanol dari tetes, hingga energi dari ampas. Model ini menunjukkan bagaimana hilirisasi seharusnya bekerja, tidak menyisakan limbah, sekaligus membuka banyak sumber pendapatan. Namun, tanpa modernisasi industri dan investasi teknologi, potensi tersebut masih berjalan setengah tenaga.
Jagung hadir sebagai penyangga, bukan penggerak utama. Produksinya besar dan fleksibel, tetapi justru karena itu, jagung lebih sering terserap ke sektor pangan dan pakan yang lebih pasti. Dalam ekosistem bioetanol, jagung penting untuk menjaga pasokan, tetapi tidak cukup kuat untuk menjadi fondasi.
Sementara itu, kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung biodiesel nasional. Namun bagi Lampung, komoditas ini bukan keunggulan pembeda. Sawit relatif stabil di Lampung, tetapi tidak memberi posisi strategis baru dalam peta energi.
Dari seluruh potensi tersebut, arah Lampung sebenarnya cukup jelas, yaitu bioetanol berbasis singkong, diperkuat dengan skema multifeedstock dari tebu dan jagung. Bukan karena pilihan ini paling mudah, tetapi karena paling realistis dan paling dekat dengan kekuatan yang sudah dimiliki.
Masalahnya, hilirisasi bukan sekadar soal apa yang ditanam, melainkan siapa yang mengolah dan siapa yang membeli. Semuanya menuntut kepastian pasar dan keinginan kuat pemerintah.
Sebab, tanpa pabrik yang cukup, produksi tidak akan pernah naik kelas. Tanpa pasar yang pasti, industri tidak akan pernah tumbuh. Dan tanpa keduanya, petani akan terus berada di posisi paling rentan dalam rantai nilai.
Lampung sebenarnya berperan penting. Daerah ini menjadi lumbung komoditas untuk “diminyaki” dengan nilai tambah yang mengalir ke luar, atau bertransformasi menjadi pusat energi berbasis bioetanol di dalam negeri.
Singkong sudah tumbuh. Potensi sudah ada. Namun hingga hari ini, “minyak” itu masih tertahan di tanah, di wacana, tetapi belum benar-benar mengalir ke industri, apalagi ke kesejahteraan.(*****)
