Memasuki Februari, arah mulai berubah. Tekanan global memang belum sepenuhnya mereda, namun ekonomi Lampung menunjukkan kemampuan beradaptasi yang lebih kuat. Neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus, mencerminkan ketahanan sektor eksternal meski ekspor berfluktuasi. Di sisi lain, impor terkontraksi sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan produksi dan konsumsi.
Penguatan paling terasa datang dari dalam. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan pertumbuhan yang stabil, sementara investasi mulai menunjukkan akselerasi dibanding tahun sebelumnya. Ini menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi daerah.
Inflasi pada Februari bergerak naik, namun tetap dalam batas terkendali. Kenaikan harga pada komoditas seperti emas perhiasan, daging ayam, dan bawang merah lebih mencerminkan meningkatnya permintaan ketimbang tekanan struktural. Artinya, pemulihan mulai terbentuk dari sisi konsumsi.
Dari sisi fiskal, kinerja Februari menunjukkan penguatan yang lebih merata. Pendapatan negara kembali tumbuh, didorong oleh pajak domestik dan peningkatan PNBP. Sementara itu, belanja negara semakin akseleratif, baik melalui kementerian/lembaga maupun transfer ke daerah. APBN tidak hanya berperan sebagai peredam tekanan, tetapi juga mulai menjadi pengungkit pertumbuhan.
Dinamika ini diperkuat oleh intervensi di sektor riil, salah satunya melalui Program 3 Juta Rumah. Di Lampung, program ini mulai menunjukkan progres nyata. Pembiayaan tersalurkan, unit rumah terbangun, dan transaksi terjadi. Lebih dari sekadar penyediaan hunian, program ini menciptakan efek berganda, menggerakkan sektor konstruksi, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat.
Jika ditarik dalam satu garis besar, Januari adalah fase tekanan dan penyesuaian, sementara Februari menandai konsolidasi. Struktur ekonomi Lampung terbukti tidak rapuh, melainkan adaptif, mampu menahan guncangan eksternal sambil memperkuat fondasi domestik.
Lalu, ke mana arah berikutnya?
Jika tren dua bulan awal ini berlanjut, maka Maret menjadi titik uji sekaligus peluang. Aktivitas ekonomi diperkirakan semakin menguat seiring meningkatnya konsumsi menjelang Ramadan. Permintaan terhadap pangan, transportasi, dan ritel berpotensi mendorong perputaran ekonomi lebih cepat.
Secara terukur, inflasi pada Maret diproyeksikan berada pada kisaran 3,0%–3,4% (yoy) dengan inflasi bulanan 0,4%–0,7% (mtm), masih dalam rentang terkendali, namun mencerminkan peningkatan permintaan.
Kinerja Ekonomi Triwulan I Diperkirakan di Kisaran 4,8%–5,2%
Dari sisi pertumbuhan, kinerja ekonomi triwulan I diperkirakan berada di kisaran 4,8%–5,2% (yoy), dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama dan investasi tumbuh di kisaran 5,0%–5,5%.
Peran fiskal juga diproyeksikan semakin kuat. Hingga akhir Maret, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp2,4–Rp2,7 triliun atau sekitar 18%–20% dari target tahunan, sementara belanja negara berpotensi menembus Rp7,5–Rp8,2 triliun atau sekitar 27%–30% pagu, tumbuh hingga dua digit secara tahunan. Akselerasi ini akan menjadi kunci dalam menjaga momentum pemulihan.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi. Tekanan inflasi pangan, volatilitas harga komoditas global, serta biaya logistik yang masih tinggi dapat memengaruhi kinerja, khususnya dari sisi eksternal.
Namun dengan konsumsi yang tetap terjaga, investasi yang mulai menguat, serta kebijakan fiskal yang responsif, Lampung memiliki fondasi yang cukup kokoh untuk melangkah ke fase berikutnya. Maret, dalam konteks ini, bukan sekadar kelanjutan, melainkan jembatan menuju akselerasi pertumbuhan yang lebih kuat di triwulan berikutnya.
Dalam lanskap yang tidak pasti, satu hal menjadi jelas, ketika tekanan datang dari luar, kekuatan dari dalam dan kehadiran negara melalui fiskal menjadi penentu arah.*****
