LAMPUNG – Provinsi Lampung menargetkan lonjakan produksi padi hingga 15–20 persen pada 2026, melanjutkan tren kenaikan signifikan yang telah dicapai sepanjang 2025. Target ambisius ini disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di tengah momentum nasional pengumuman swasembada pangan oleh pemerintah pusat.
“Kita bersyukur pada 2025 produksi padi Lampung meningkat hampir 15 persen, dari sekitar 2,7 juta ton menjadi lebih dari 3 juta ton. Dengan berbagai upaya yang kita siapkan, kami optimistis pada 2026 produksi bisa naik lagi sekitar 15 sampai 20 persen,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA), produksi padi Lampung sepanjang Januari–Desember 2025 bahkan tercatat mencapai 3,2 juta ton, meningkat sekitar 14,63 persen dibandingkan 2024. Capaian ini menempatkan Lampung sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan produksi padi tertinggi secara nasional, di saat sejumlah daerah lain masih mencatat kenaikan yang lebih terbatas.
Secara nasional, pemerintah pusat telah menyampaikan bahwa Indonesia mencapai swasembada pangan pada 2025 dengan stok pangan mencapai sekitar 3,2 juta ton. Dalam konteks tersebut, Lampung tampil sebagai daerah surplus yang tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berkontribusi nyata menjaga pasokan nasional, khususnya di wilayah Sumatera.
Gubernur Lampung menjelaskan, peningkatan produksi pada 2026 akan diperkuat melalui penerapan pupuk organik cair yang ditargetkan merata di sentra produksi. “Penggunaan pupuk organik cair kami dorong lebih luas pada 2026. Ini diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas hingga 10 persen sekaligus menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang,” katanya.
Selain padi, Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan produksi komoditas strategis lain seperti jagung, serta memperkuat kerja sama antardaerah. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui perjanjian kerja sama sektor pertanian antara Lampung dan Jawa Tengah.
“Antardaerah itu saling membutuhkan. Lampung dapat memasok gula dan komoditas tertentu, sementara Jawa Tengah memasok cabai dan bawang. Ini bentuk sinergi untuk menjaga stabilitas pangan nasional,” ujar Gubernur.
Di sisi lain, pemerintah daerah menegaskan komitmen menjaga keberlanjutan lahan pertanian. Pemprov Lampung berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk menginventarisasi dan mendaftarkan lahan pertanian ke dalam program lahan sawah berkelanjutan, guna mencegah alih fungsi lahan yang berpotensi menggerus produksi.
Kinerja produksi yang kuat ini sejalan dengan perbaikan kesejahteraan petani. Secara nasional, Nilai Tukar Petani (NTP) pada 2025 tercatat berada di kisaran 125. Sementara di Lampung, NTP mencapai 129,33 pada November 2025, menunjukkan daya beli petani yang relatif lebih kuat dibandingkan rata-rata nasional.
Dengan kombinasi peningkatan produksi, penguatan teknologi budidaya, kerja sama antardaerah, serta perlindungan lahan pertanian, Lampung menatap 2026 dengan optimisme tinggi. Di saat nasional berbicara swasembada pangan, Lampung melangkah lebih jauh: memperbesar surplus, menjaga keberlanjutan produksi, dan memastikan pertumbuhan sektor pertanian berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.(i-nomics)
