Ekonomi Melambat, APBN Menyangga Lampung

LAMPUNG – Ketika ekonomi global melambat dan harga komoditas bergerak tak menentu, pemerintah memilih menahan guncangan dengan anggaran. APBN 2025 diposisikan sebagai penyangga utama, memastikan perlambatan tidak berubah menjadi hentakan keras bagi perekonomian nasional maupun daerah seperti Lampung.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, dalam situasi ekonomi yang volatile, APBN dijalankan secara antisipatif dan responsif. Negara justru mempercepat belanja saat sektor usaha dan perdagangan global kehilangan momentum, sembari menjaga defisit tetap dalam batas aman.

Hingga akhir 2025, pendapatan negara telah terealisasi Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook semester. Penerimaan tersebut ditopang perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melampaui target. Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook, menjaga defisit tetap terkendali di level 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Strategi ini mencerminkan fungsi countercyclical APBN—kebijakan fiskal yang bergerak berlawanan dengan siklus ekonomi. Saat ekonomi melambat, negara justru maju selangkah dengan belanja untuk menahan kontraksi, menjaga daya beli, dan memastikan roda ekonomi tetap berputar. APBN bekerja layaknya peredam kejut, menahan tekanan agar tidak langsung menghantam masyarakat dan daerah.

Efek bantalan itu terasa hingga ke Lampung. Hingga akhir November 2025, kinerja APBN Regional Lampung menunjukkan resiliensi dengan pendapatan negara mencapai Rp10,23 triliun atau 93,07 persen dari target, tumbuh 9,51 persen secara tahunan. Kinerja ini didukung oleh penguatan perdagangan internasional serta penerimaan PNBP yang tetap solid.

Dari sisi belanja, APBN yang mengalir ke Lampung telah terealisasi Rp29,21 triliun atau 91,29 persen dari pagu. Meski dilakukan efisiensi dan penyesuaian prioritas, penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) tetap dioptimalkan. Hasilnya, defisit fiskal regional justru menyempit 11,43 persen secara tahunan—sebuah sinyal pengelolaan anggaran yang lebih ketat di tengah tekanan ekonomi.

Di sektor riil, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Aktivitas manufaktur nasional berada di zona ekspansi, sementara perdagangan luar negeri Lampung mencatat surplus signifikan. Ekspor tumbuh dua digit, sementara lonjakan impor bahan baku penolong memberi isyarat bahwa kapasitas produksi industri mulai dipanaskan kembali.

Pemerintah optimistis, seiring membaiknya fondasi ekonomi dan menguatnya momentum pertumbuhan, tekanan fiskal dapat dikendurkan secara bertahap pada 2026 dengan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Namun bagi Lampung, satu pesan kunci mengemuka: selama ruang fiskal APBD belum cukup kuat, APBN akan tetap menjadi penyangga utama ketika ekonomi global kembali bergelombang.(i-nomics)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *