Target pertumbuhan ekonomi 8 persen terdengar sederhana. Namun di balik angka itu, Lampung menghadapi pekerjaan rumah yang tidak kecil. Lampung harus menciptakan tambahan aktivitas ekonomi sekitar Rp250 triliun dalam lima tahun ke depan. Pertanyaannya, dari mana tambahan ekonomi sebesar itu akan datang?
@Iwa Perkasa
Delapan persen.
Angka itu kini menjadi salah satu target paling sering disebut dalam diskusi pembangunan nasional maupun daerah. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen, dan daerah-daerah dituntut menjadi bagian dari mesin penggeraknya.
Bagi Lampung, target tersebut terdengar tidak terlalu jauh. Pertumbuhan ekonomi provinsi ini pada 2025 tercatat 5,28 persen, sedikit di atas rata-rata nasional.
Namun jika dihitung lebih dalam, jarak antara 5 persen dan 8 persen ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Sebab ekonomi tidak tumbuh secara linier. Ia tumbuh secara bertingkat, seperti bunga tabungan yang terus berbunga dari tahun ke tahun.
Dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung yang kini mencapai Rp578,2 triliun, pertumbuhan ekonomi 8 persen selama lima tahun berturut-turut akan menghasilkan ukuran ekonomi mendekati Rp850 triliun pada 2030.
Artinya, dalam lima tahun ke depan Lampung harus menambah sekitar Rp250 triliun hingga Rp270 triliun aktivitas ekonomi baru.
Angka itu bukan angka kecil.
Nilainya hampir setengah dari ukuran perekonomian Lampung saat ini.
Atau jika dibagi rata, Lampung membutuhkan tambahan ekonomi sekitar Rp50 triliun setiap tahun.
Pertanyaannya, dari mana tambahan ekonomi sebesar itu akan datang?
APBD Tidak Akan Cukup
Pertanyaan inilah yang sesungguhnya menjadi inti rapat Sinergi dan Kolaborasi Pengembangan Ekonomi Daerah yang dipimpin Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Bank Indonesia, OJK, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan sejumlah instansi strategis lainnya.
Dalam rapat tersebut, Mirza menyampaikan satu pernyataan yang sangat penting.
“Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, tidak mungkin hanya mengandalkan APBD. Karena itu diperlukan kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak.”
Pernyataan tersebut sebenarnya menggambarkan realitas yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia.
Ruang fiskal pemerintah memiliki batas.
APBD memang dapat menjadi pemicu pembangunan melalui pembangunan jalan, irigasi, pendidikan, kesehatan, dan berbagai layanan publik lainnya.
Namun APBD tidak cukup besar untuk menciptakan tambahan ekonomi Rp250 triliun.
Karena itu pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa dicapai jika sektor swasta, investasi, industri, perbankan, dan masyarakat bergerak bersama.
Lampung Tidak Kekurangan Potensi
Sesungguhnya Lampung memiliki modal yang relatif lengkap.
Provinsi ini merupakan salah satu sentra pangan nasional.
Lampung menghasilkan padi, jagung, singkong, tebu, kopi, kakao, sawit, peternakan, hingga perikanan.
Indonesia juga tengah berada di pusaran persaingan investasi energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Dengan potensi yang ada, Lampung berpotensi menjadi incaran investor dunia
Posisinya juga sangat strategis sebagai gerbang Pulau Sumatra yang terhubung langsung dengan Pulau Jawa sebagai pasar terbesar di Indonesia.
Jalan tol Trans Sumatra telah terbangun.
Pelabuhan tersedia. Konektivitas logistik terus membaik.
Karena itu persoalan utama Lampung bukan terletak pada ketersediaan sumber daya.
Persoalannya adalah bagaimana mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai ekonomi yang lebih besar. Bagaimana mengelola sumber daya tersebut hingga investor tertarik membenamkan modalnya.
Mengapa Nilai Tambah Menjadi Kunci?
Selama bertahun-tahun Lampung dikenal sebagai daerah penghasil komoditas.
Namun menjadi penghasil komoditas belum tentu identik dengan menjadi daerah yang menikmati keuntungan terbesar.
Contohnya sangat sederhana.
Petani menjual singkong. Nilai ekonomi singkong tersebut masuk dalam PDRB Lampung.
Tetapi ketika singkong diolah menjadi tepung industri, bahan pangan, atau bioetanol di tempat lain, maka keuntungan terbesar justru muncul di luar daerah.
Hal serupa terjadi pada kopi, tebu, sawit, dan berbagai komoditas unggulan lainnya. Dan hampir pada semua komoditi.
Lampung menghasilkan bahan baku. Tetapi sebagian nilai tambahnya masih dinikmati di luar Lampung.
Inilah yang membuat Gubernur Mirza berulang kali menekankan pentingnya hilirisasi.
Karena yang dibutuhkan Lampung bukan sekadar produksi lebih banyak.
Yang dibutuhkan adalah nilai tambah yang lebih besar.
Investasi Menjadi Mesin Utama
Jika Lampung membutuhkan tambahan ekonomi Rp250 triliun, maka investasi akan menjadi salah satu mesin utamanya.
Kabar baiknya, realisasi investasi Lampung pada 2025 tumbuh sangat tinggi, mencapai 57,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun angka investasi saja tidak cukup.
Yang lebih penting adalah kualitas investasinya.
Apakah investasi tersebut membangun industri pengolahan Apakah investasi tersebut menyerap tenaga kerja lokal?
Apakah investasi tersebut membeli bahan baku dari petani Lampung Apakah investasi tersebut menciptakan rantai ekonomi baru?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah investasi mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Karena investasi yang hanya menghasilkan aktivitas sesaat tidak akan cukup untuk membawa Lampung menuju target 8 persen.
Pajak Memberi Sinyal Penting
Menariknya, tantangan tersebut juga tercermin dari data perpajakan.
Pada 2025, PDRB Lampung mencapai Rp578,2 triliun. Namun penerimaan pajak yang tercatat baru sekitar Rp7,77 triliun dengan tax ratio 1,47 persen.
Data ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas basis perpajakan.
Sederhananya, ekonomi Lampung memang besar.
Tetapi sebagian aktivitas ekonominya belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan fiskal yang kuat.
Karena itu agenda hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan investasi sesungguhnya bukan hanya soal meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Agenda tersebut juga bertujuan memperkuat fondasi keuangan daerah dan negara.
Pertaruhan Lima Tahun ke Depan
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar angka statistik.
Ia adalah ukuran seberapa cepat Lampung mampu bertransformasi.
Apakah Lampung akan tetap menjadi daerah penghasil bahan mentah?
Ataukah mampu naik kelas menjadi daerah pencipta nilai tambah?
Jika tambahan ekonomi Rp250 triliun itu berhasil diciptakan melalui hilirisasi, industrialisasi, dan investasi produktif, maka Lampung tidak hanya memperoleh pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Lampung akan mendapatkan lebih banyak lapangan kerja, pendapatan petani yang lebih baik, penerimaan pajak yang lebih kuat, dan tingkat kemiskinan yang lebih rendah.
Namun jika pola lama terus dipertahankan, pertumbuhan ekonomi kemungkinan tetap bergerak positif, tetapi sulit melakukan lompatan besar.
Karena itu pekerjaan rumah terbesar Lampung hari ini bukan sekadar mengejar angka 8 persen.
Pekerjaan rumah sesungguhnya adalah membangun mesin ekonomi baru yang mampu menciptakan tambahan Rp250 triliun aktivitas ekonomi dalam lima tahun ke depan.
Dan dari sanalah masa depan pertumbuhan Lampung akan ditentukan. *****
