BANDARLAMPUNG — Di balik angka statistik kesehatan, kanker selalu menyisakan cerita yang sama, mulai dari keterlambatan diagnosis, perjuangan panjang menjalani pengobatan, dan keluarga yang berusaha bertahan di tengah ketidakpastian.
Di Lampung, cerita itu masih terjadi hingga hari ini.
Banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut. Sebagian harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Sebagian lainnya terpaksa mencari pengobatan ke luar daerah karena layanan yang dibutuhkan belum sepenuhnya tersedia di dekat tempat tinggal mereka.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Provinsi Lampung di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (19/6/2026).
Bagi Jihan, persoalan kanker tidak cukup dilihat sebagai urusan medis semata. Di balik setiap pasien, ada keluarga yang berjuang, ada biaya yang harus dikeluarkan, ada waktu yang tersita, dan ada harapan yang terus dipertahankan.
Karena itu, menurutnya, pasien kanker tidak boleh menghadapi semua itu sendirian.
“Kita perlu terus mengawal upaya penanggulangan kanker yang menjadi salah satu penyebab utama kematian. Banyak masyarakat yang baru mengetahui penyakitnya ketika sudah berada pada stadium lanjut,” kata Jihan.
Kanker dan Tantangan yang Belum Selesai
Kanker merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sering datang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Ketika gejala mulai terasa dan pasien memutuskan memeriksakan diri, tidak jarang penyakit sudah berkembang lebih jauh. Pada titik itulah biaya pengobatan meningkat, pilihan terapi semakin terbatas, dan peluang kesembuhan menjadi lebih kecil.
Masalah berikutnya adalah akses layanan.
Meskipun fasilitas kesehatan di Lampung terus berkembang, kebutuhan layanan kanker modern tumbuh jauh lebih cepat. Pasien sering membutuhkan layanan spesialis, pemeriksaan diagnostik lanjutan, kemoterapi, radioterapi, hingga tindakan medis yang tidak selalu tersedia di semua daerah.
Akibatnya, banyak pasien memilih atau terpaksa dirujuk ke rumah sakit di luar Lampung.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi, pilihan itu mungkin masih bisa dijalani. Namun bagi sebagian besar masyarakat, perjalanan berobat ke luar daerah sering kali menjadi beban tambahan yang tidak ringan.
Biaya transportasi, tempat tinggal sementara, kehilangan pendapatan selama mendampingi pasien, hingga tekanan psikologis menjadi bagian dari perjuangan yang jarang terlihat.
Karena itulah Jihan menilai pendekatan terhadap kanker tidak boleh berhenti pada pengobatan.
Jangan Menunggu Stadium Lanjut
Menurut Jihan, salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah memperkuat pencegahan dan deteksi dini.
Selama ini, banyak masyarakat baru datang ke fasilitas kesehatan setelah merasakan keluhan yang cukup berat. Padahal, pada banyak jenis kanker, peluang keberhasilan pengobatan meningkat signifikan jika ditemukan lebih awal.
Karena itu, ia meminta Yayasan Kanker Indonesia sangat diminta lebih aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko, pola hidup sehat, serta tanda-tanda awal kanker yang perlu diwaspadai.
“Melalui forum ini saya berharap kita dapat melahirkan program-program yang memperkuat pencegahan, edukasi, pendampingan, dan dukungan bagi pasien maupun penyintas kanker,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi benteng pertama dalam perang melawan kanker.
Semakin cepat seseorang mengetahui kondisi kesehatannya, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang efektif.
Pendampingan yang Sering Terlupakan
Selain deteksi dini, Jihan menyoroti pentingnya pendampingan pasien.
Dalam praktiknya, banyak pasien dan keluarga yang kesulitan memahami prosedur pelayanan kesehatan, alur rujukan BPJS, hingga pilihan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Tidak sedikit yang merasa kebingungan saat harus menjalani proses pengobatan yang panjang dan kompleks.
Karena itu, ia berharap YKI dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, dukungan, dan pendampingan.
Menurutnya, keberadaan organisasi sosial seperti YKI sangat penting untuk menjembatani kebutuhan pasien dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada.
“Kita ingin YKI menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, dukungan, dan pendampingan,” katanya.
Harapan tersebut lahir dari kenyataan bahwa perjuangan pasien kanker bukan hanya soal obat dan tindakan medis.
Sering kali yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau mendengar, menjelaskan, mendampingi, dan membantu pasien memahami langkah apa yang harus dilakukan berikutnya.
Membangun Harapan
Dalam Rakerda tersebut, Jihan meminta seluruh pengurus YKI di Lampung menyusun program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia juga mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara YKI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, komunitas, media massa, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Menurutnya, penanganan kanker tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja.
Dibutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan agar masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi, layanan kesehatan, dan pendampingan.
“Yang besar tidak akan menjadi beban apabila dikerjakan dengan hati dan dilandasi niat untuk memberikan manfaat bagi sesama,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, pesan yang ingin disampaikan Jihan cukup jelas. Perang melawan kanker bukan hanya tugas dokter, rumah sakit, atau pemerintah.
Ini adalah perjuangan bersama. Dan dalam perjuangan itu, tidak boleh ada pasien yang merasa berjalan sendirian.(iwa)
