@i-nomics
Jauh sebelum istilah Sekolah Rakyat kembali mengemuka hari ini, konsep itu sesungguhnya telah lahir bersama napas awal Republik Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, Sekolah Rakyat yang dikenal luas sebagai SR (Sekolah Rakyat) menjadi fondasi pendidikan dasar bagi rakyat kebanyakan, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Pada dekade 1940–1950-an, Sekolah Rakyat adalah nama resmi pendidikan dasar enam tahun, sebelum istilah Sekolah Dasar (SD) dipopulerkan dan dibakukan pada era berikutnya. Sekolah ini tidak berdiri megah, tidak pula lengkap fasilitasnya. Namun ia memikul misi besar, memberantas buta huruf dan membangun kesadaran kebangsaan di tengah rakyat yang baru merdeka.
Di Sekolah Rakyat, anak-anak petani, buruh, nelayan, dan rakyat kecil belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus memahami arti kemerdekaan. Guru-gurunya sering kali bukan pegawai bergaji besar, melainkan pejuang pendidikan, yang mengajar dengan semangat pengabdian di ruang kelas sederhana, bahkan kadang tanpa bangku dan papan tulis layak.
Seiring waktu, ketika sistem pendidikan nasional semakin terstruktur, Sekolah Rakyat bertransformasi menjadi Sekolah Dasar. Nama “Sekolah Rakyat” perlahan menghilang dari nomenklatur resmi, tetapi roh sosialnya tetap hidup: pendidikan sebagai hak rakyat, bukan privilese segelintir orang.
Namun perjalanan sejarah menunjukkan, meski akses pendidikan semakin luas, ketimpangan tetap bertahan. Kemiskinan struktural, jarak geografis, dan keterbatasan ekonomi membuat sebagian anak Indonesia masih tertinggal dari sistem pendidikan formal. Di titik inilah, istilah Sekolah Rakyat kembali menemukan relevansinya.
Ketika pemerintah hari ini kembali menghidupkan Sekolah Rakyat sebagai program nasional, sesungguhnya negara sedang menyambung benang sejarah yang sempat terputus. Sekolah Rakyat versi kini bukan sekadar nostalgia, melainkan reinterpretasi modern dari gagasan lama bahwa pendidikan harus menjangkau mereka yang paling tertinggal.
Berbeda dengan Sekolah Rakyat era awal republik yang lahir dari keterbatasan, Sekolah Rakyat masa kini dibangun dengan pendekatan afirmatif, gratis, terintegrasi, bahkan berbasis asrama untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem tidak lagi terlempar dari sistem.
Jika dulu Sekolah Rakyat adalah alat perjuangan melawan kebodohan pascakolonialisme, maka hari ini ia menjadi alat perlawanan terhadap kemiskinan antargenerasi. Semangatnya sama, tantangannya berbeda.
Sejarah menunjukkan, bangsa ini pernah percaya bahwa pendidikan rakyat adalah fondasi negara. Menghidupkan kembali Sekolah Rakyat berarti mengingat kembali keyakinan lama itu bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang lahir paling mampu, tetapi oleh siapa yang diberi kesempatan untuk belajar.
Dalam arti itu, Sekolah Rakyat bukan sekadar program baru. Ia adalah warisan lama yang menemukan jalannya kembali di zaman yang baru.***
