Inflasi Rendah Bukan Trofi: Cara Pemda Salah Membaca Prestasi (2 in 3)

“Ketika inflasi rendah dirayakan tanpa bertanya mengapa ekonomi melambat, di situlah ilusi prestasi inflasi mulai bekerja.”

i-nomics

CARA pemerintah daerah membaca inflasi rendah patut dikritik secara terbuka. Setiap rilis data disambut dengan nada kemenangan, seolah peringkat inflasi adalah bukti keberhasilan tata kelola ekonomi. Padahal inflasi bukan medali, melainkan indikator. Ia memberi peringatan, bukan penghargaan.

Masalahnya bukan pada datanya, melainkan pada tafsirnya. Inflasi rendah dibaca sebagai hasil kerja hebat, tanpa pertanyaan lanjutan, apakah konsumsi tumbuh? Apakah produksi meningkat? Apakah pendapatan masyarakat naik? Pertanyaan-pertanyaan itu jarang muncul dalam pernyataan resmi.

Forum koordinasi inflasi berubah menjadi panggung seremoni. Apresiasi datang dari pusat, ucapan terima kasih dilontarkan, dan publik diyakinkan bahwa ekonomi berjalan baik-baik saja. Padahal, ekonomi tidak bisa dinilai dari ketenangan harga semata. Dalam konteks global yang sedang melambat, inflasi rendah justru harus dibaca dengan lebih waspada, bukan dirayakan tanpa kritik.

Inflasi yang rendah karena pasokan kuat dan permintaan tinggi adalah kabar baik. Tapi inflasi rendah karena masyarakat menahan belanja adalah alarm. Pemerintah daerah tampak memilih tafsir yang paling nyaman, semua baik, semua terkendali, tidak ada masalah struktural.

Inilah inti ilusi prestasi inflasi, indikator teknis diangkat menjadi prestasi politik, sementara substansi ekonomi dikesampingkan. Ketika pemerintah sibuk mengamankan narasi, risiko justru menumpuk diam-diam di sektor riil.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *