Ilusi Prestasi Inflasi dan APBD yang Berjalan di Tempat (3 in 3)

Ilusi prestasi inflasi membuat APBD Lampung tampak tenang di permukaan, namun rapuh ketika ekonomi membutuhkan dorongan nyata.”

inomics

Dampak paling nyata dari inflasi rendah yang disalahartikan terlihat pada APBD. Ketika ekonomi tidak tumbuh agresif, Pendapatan Asli Daerah ikut melemah. Tidak ada lonjakan pajak kendaraan, tidak ada peningkatan signifikan pajak hotel dan restoran, dan retribusi daerah berjalan seadanya. APBD akhirnya bertahan, bukan melaju.

Dalam kondisi seperti ini, belanja daerah tidak lagi ditopang oleh kekuatan ekonomi lokal, melainkan oleh faktor-faktor penyangga transfer pusat, sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA), dan wacana utang daerah. APBD memang tetap berjalan, tapi lebih mirip mesin yang dipaksa hidup dengan baterai cadangan.

Ketergantungan ini berbahaya. Ketika dana pusat tersendat, SiLPA menyusut, atau ruang utang menyempit, pemerintah daerah akan kehilangan kemampuan merespons krisis. APBD menjadi reaktif: belanja disesuaikan setelah masalah muncul, bukan dirancang untuk mencegahnya.

Ironisnya, semua ini terjadi di tengah klaim stabilitas inflasi. APBD tampak aman di atas kertas, tetapi miskin strategi. Tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan, tidak cukup fleksibel untuk menyerap guncangan, dan terlalu bergantung pada faktor di luar kendali daerah.

Inflasi rendah yang dirayakan tanpa kritik justru mempercepat kondisi ini. Pemerintah merasa tidak perlu mengubah arah kebijakan karena indikator utama terlihat baik. Padahal, tanpa pertumbuhan ekonomi yang nyata, APBD Lampung hanya akan berjalan di tempat, tenang, tapi kehilangan masa depan.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *