Higher Order Thinking Skills, Membangun Nalar Menjawab Zaman

“Zaman berubah cepat. Hanya nalar yang terlatih yang mampu mengimbanginya.” @i-nomics

Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk pertama kalinya diperkenalkan secara terbuka dan eksplisit oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, sebagai strategi pembelajaran yang dirancang dan dijalankan secara sistematis di tingkat daerah. Meski secara konseptual HOTS telah lama hadir dalam lintasan Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka. Langkah ini menandai pergeseran penting dari sekadar istilah dalam dokumen nasional menuju kebijakan operasional yang benar-benar dihidupkan di ruang kelas.

HOTS lahir dari kesadaran bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan lagi kekurangan materi, melainkan kebutuhan akan kemampuan bernalar. Dunia nyata tidak menyajikan soal pendek dengan jawaban instan. Ia menghadirkan persoalan panjang, kompleks, dan saling terkait. Dalam konteks itulah HOTS menemukan relevansinya. Secara sederhana, Higher Order Thinking Skills adalah kemampuan berpikir tingkat lanjut. menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah, bukan sekadar mengingat atau meniru jawaban.

Kebijakan Disdikbud Lampung memfokuskan pembiasaan HOTS pada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Pilihan ini mencerminkan logika yang kuat. Bahasa membangun literasi, pemahaman makna, dan kemampuan berargumentasi. Sementara matematika melatih logika, konsistensi, serta ketahanan menyelesaikan persoalan. Ketika siswa dibiasakan membaca soal panjang dan memahami konteksnya, mereka sejatinya sedang dilatih menghadapi persoalan kehidupan yang jarang hadir secara sederhana.

Hasil evaluasi Tes Kemampuan Akademik menunjukkan bahwa tantangan utama siswa bukan pada penguasaan materi, melainkan pada daya juang membaca dan ketekunan bernalar. Dari titik inilah HOTS diposisikan sebagai pembiasaan, bukan tekanan. Soal disusun bertahap, latihan dilakukan rutin, dan siswa diajak membaca lebih pelan namun lebih dalam. Pendidikan diarahkan kembali pada proses, bukan sekadar hasil akhir.

Namun optimisme kebijakan ini perlu berjalan seiring dengan kejernihan membaca tantangan. HOTS tidak akan tumbuh tanpa penguatan literasi yang nyata. Tanpa budaya membaca, memahami teks panjang, dan berdiskusi, HOTS berisiko tereduksi menjadi sekadar soal sulit tanpa makna. Karena itu, peningkatan literasi harus menjadi fondasi yang berjalan paralel, bukan program pelengkap.

Di hilir, rencana tes berkala dan pemetaan kemampuan siswa merupakan langkah maju menuju uji kompetensi yang lebih adil dan akurat. Uji kompetensi seharusnya tidak dimaknai sebagai alat seleksi semata, melainkan sebagai instrumen memahami posisi belajar setiap anak. Kelompok berkemampuan tinggi perlu tantangan lebih, sementara siswa yang masih tertinggal membutuhkan pendampingan yang tepat, bukan stigma.

Di sinilah keberhasilan HOTS kelak diuji. Indikatornya bukan hanya frekuensi latihan atau kelengkapan bank soal. Keberhasilan HOTS akan terlihat dari peningkatan literasi dan numerasi yang substantif, kemampuan siswa menjelaskan alasan di balik jawabannya, serta perubahan pola asesmen yang menghargai proses berpikir, bukan sekadar kecepatan dan ketepatan. Ia juga tercermin dari ketahanan siswa menghadapi soal kompleks, tidak mudah menyerah, mampu bertahan membaca, dan menyelesaikan persoalan secara bertahap.

Lebih jauh, HOTS hanya akan hidup jika pembelajaran di kelas bergerak dialogis. Guru perlu ruang untuk mengajar dengan pendekatan yang mendorong pertanyaan, memberi kesempatan salah, dan membangun keberanian berpikir. Budaya kelas yang aman bagi nalar kritis adalah indikator penting yang sering luput diukur, namun justru menentukan.

Dalam konteks pembangunan Lampung, langkah ini memiliki makna strategis. Daerah tidak hanya membutuhkan lulusan dengan nilai tinggi, tetapi generasi yang mampu membaca persoalan, mengambil keputusan rasional, dan beradaptasi dengan perubahan. HOTS adalah investasi nalar. Hasilnya tidak instan, tetapi menentukan arah masa depan.

Jika konsistensi dijaga, literasi diperkuat dari hulu ke hilir, dan uji kompetensi diselaraskan dengan semangat bernalar, maka HOTS tidak akan berhenti sebagai istilah baru dalam pendidikan Lampung. Ia akan menjadi fondasi lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pikiran jernih, bukan sekadar hafalan.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *